" Blog Untuk Persaudaraan Manusia Sedunia, Untuk Semua Makhluk Yang Terlahir Di Alam Dunia Yang Fana Ini "
Jumat, 15 April 2011
SIFAT WAJIB BAGI ALLAH
1. WUJUD = ADA
Menurut pelajar Usuluddin bahwa sifat 20 itu diringkas menjadi 4;
a. Di hutan ada lebah madu glodok, madu kesukaan manusia dan lebah.
Senin, 22 November 2010
NASIB BUDAYA NUSANTARA
SUMPAH BUDAYA II
Oleh Mas Kumitir
Situasi mental sosial-budaya bangsa semakin memprihatinkan dan harus segera dicarikan jalan keluarnya. Juga harus ada langkah raksasa agar ada keperdulian dari semua elemen bangsa untuk memelihara dan menjaga budaya nusantara tidak sekedar parsial namun dalam scope nasional secara komprehensif. Perlu pula dilakukan semacam revitalisasi budaya bangsa dengan visi menjadi bangsa Indonesia yang berkarakter (mempunyai jati diri), bermartabat dan terhormat.
Apa pentingnya budaya ?
Budaya merupakan seperangkat nilai yang tak bisa dianggap remeh. Karena kebudayaan merupakan nilai-nilai luhur sebagai hasil adanya interaksi manusia dengan lingkungan alam dan lingkungan sosialnya yang telah terbangun sejak ribuan tahun silam. Nilai-nilai luhur yang telah menjiwai sebuah bangsa dan masyarakat. Sehingga kebudayaan sangat mewarnai sekaligus memberi karakter pada jiwa suatu bangsa (volkgeist). Budaya menjadi cerminan nilai kejiwaan yang merasuk ke dalam setiap celah kesadaran dan aktivitas hidup manusia atau.
Budaya merupakan seperangkat nilai yang tak bisa dianggap remeh. Karena kebudayaan merupakan nilai-nilai luhur sebagai hasil adanya interaksi manusia dengan lingkungan alam dan lingkungan sosialnya yang telah terbangun sejak ribuan tahun silam. Nilai-nilai luhur yang telah menjiwai sebuah bangsa dan masyarakat. Sehingga kebudayaan sangat mewarnai sekaligus memberi karakter pada jiwa suatu bangsa (volkgeist). Budaya menjadi cerminan nilai kejiwaan yang merasuk ke dalam setiap celah kesadaran dan aktivitas hidup manusia atau.
Oleh sebab itu, sistem budaya sangat berpengaruh ke dalam pola pikir (mind-set) setiap individu manusia. Budaya berkonotasi positif sebagai buah dari budi daya manusia dalam menjalani kehidupan dan meretas kreatifitas hidup yang setinggi-tingginya. Maka budaya pun bisa dikatakan nilai-nilai kearifan dan kebijaksanaan suatu masyarakat atau bangsa yang lahir sebagai hikmah (implikasi positif) dari pengalaman hidup selama ribuan tahun lamanya. Adanya budaya juga membedakan mana binatang mana pula manusia. Manusia tidak disebut binatang karena pada dasarnya memiliki kebudayaan yang terangkum dalam sistem sosial, plitik, ekonomi dan kesadaran spiritualnya. Setuju atau tidak setuju, kenyataannya budaya sangat erat kaitannya dengan moralitas suatu bangsa.
Lantas seperti apakah karakter budaya kita bangsa Indonesia ? Bangsa yang tidak berbudaya maksudnya untuk merujuk suatu bangsa yang sudah bobrok moralitas dan hilang jati dirinya. Budaya kita telah lama mengalami stagnasi kalau tidak boleh disebut kemunduran. Tanda-tandanya tampak terutama dalam pemujaan berlebihan di kalangan masyarakat luas terhadap hal-hal yang bersifat fisik dan material yang datangnya dari luar nusantara. Oleh karena itu, mutlak segera dibahas dan dipecahkan bersama-sama. Kita perlu menyadari bahwa banyaknya persoalan yang dihadapi bangsa ini sangat kompleks menyangkut kehidupan sosial, ekonomi, politik dan lainnya. Namun harus digarisbawahi kalau bidang-bidang tersebut sangat terkait dengan krisis yang berlaku di lapangan kebudayaan.
Kita mengakui budaya bangsa warisan leluhur kita sangat adiluhung. Namun kenapa perhatian semua pihak terhadap budaya bangsa semakin lama semakin rendah? Bangsa ini seakan menjadi bangsa yang tanpa budaya, dan perlahan dan pasti suatu saat nanti bangsa ini pasti lupa akan budayanya sendiri. Situasi ini menunjukan betapa krisis budaya telah melanda negeri ini. Rendahnya perhatian pemerintah untuk menguri-uri budaya bangsanya, menunjukan minimnya pula kepedulian atas masa depan budaya. Yang semestinya budaya senantiasa dilestarikan dan diberdayakan. Muara dari kondisi di atas adalah bangkrutnya tatanan moralitas bangsa. Kebangkrutan moralitas bangsa karena masyarakat telah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa besar nusantara yang sesungguhnya memiliki “software” canggih dan lebih dari sekedar “modern”. Itulah “neraka” kehidupan yang sungguh nyata dihadapi oleh generasi penerus bangsa. Kebangkrutan moralitas bangsa dapat kita lihat dalam berbagai elemen kehidupan bangsa besar ini. Rusak dan hilangnya jutaan hektar lahan hutan di berbagai belahan negeri ini. Korupsi, kolusi, nepotisme, hukum yang bobrok dan pilih kasih. Pembunuhan, perampokan, pencurian, pemerkosaan, asusial, permesuman, penipuan dan sekian banyaknya tindak kejahatan dan kriminal dilakukan oleh masyarakat maupun para pejabat. Bahkan oleh para penjaga moral bangsa itu sendiri.
Undang Undang Dasar Negara RI tahun 1945 (UUD 1945) Pasal 32 ayat (1) dinyatakan, “Negara memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasa masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai–nilai budayanya”. Sudah sangat jelas konstitusi menugaskan kepada penyelenggara negara untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Ini berarti negara berkewajiban memberi ruang, waktu, sarana, dan institusi untuk memajukan budaya nasional dari mana pun budaya itu berasal.
Amanah konstitusi itu, tidak direspon secara penuh oleh pemerintah. Bangsa yang sudah merdeka 65 tahun ini masalah budaya kepengurusannya “dititipkan” kepada institusi yang lain. Pada masa yang lampau pengembangan budaya dititipkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kini Budaya berada dalam satu atap dengan Pariwisata, yakni Departemen Pariwisata dan Budaya. Dari titik ini saja telah ada kejelasan, bagaimana penyelenggara negara menyikapi budaya nasional itu. Budaya nasional hanya dijadikan pelengkap penderita saja.
Kita ingat beberapa saat yang lalu kejadian yang menyita perhatian yaitu klaim oleh negara Malaysia terhadap produk budaya bangsa Indonesia yang diklaim sebagai budaya negara Jiran tersebut, antara lain lagu Rasa Sayange, Batik, Reog Ponorogo, Tari Bali, dan masih banyak lainnya. Apakah kejadian seperti ini akan dibiarkan terus berulang?
Seharusnya peristiwa tragis tersebut dapat menjadi martir kesadaran dan tanggungjawab yang ada di atas setiap pundak para generasi bangsa yang masih mengakui kewarganegaraan Indonesia. Negara atau pemerintah Indonesia semestinya berkomitmen untuk mengembangkan kebudayaan nasional sekaligus melindungi aset-aset budaya bangsa, agar budaya Indonesia yang dikenal sebagai budaya adi luhung, tidak tenggelam dalam arus materialistis dan semangat hedonisme yang kini sedang melanda dunia secara global. Sudah saatnya negara mempunyai strategi dan politik kebudayaan yang berorientasi pada penguatan dan pengukuhan budaya nasional sebagai budaya bangsa Indonesia.
Sebagai bangsa yang merasa besar, kita harus meyakini bahwa para leluhur telah mewariskan pusaka kepada bangsa ini dengan keanekaragaman budaya yang bernilai tinggi. Warisan adi luhung itu tidak cukup bila hanya berhenti pada tontonan dan hanya dianggap sebagai warisan yang teronggok dalam musium, dan buku buku sejarah saja. Bangsa ini mestinya mempunyai kemampuan memberikan nilai nilai budaya sebagai aset bangsa yang mesti terjaga kelestarian agar harkat martabat sebagai bangsa yang berbudaya luhur tetap dapat dipertahankan sepanjang masa.
Dalam situasi global, interaksi budaya lintas negara dengan mudah terjadi. Budaya bangsa Indonesia dengan mudah dinikmati, dipelajari, dipertunjukan, dan ditemukan di negara lain. Dengan demikian, maka proses lintas budaya dan silang budaya yang terjadi harus dijaga agar tidak melarutkan nilai nilai luhur bangsa Indonesia. Bangsa ini harus mengakui, selama ini pendidikan formal hanya memberi ruang yang sangat sempit terhadap pengenalan budaya, baik budaya lokal maupun nasional. Budaya sebagai materi pendidikan baru taraf kognitif, peserta didik diajari nama-nama budaya nasional, lokal, bentuk tarian, nyanyian daerah, berbagai adat di berbagai daerah, tanpa memahami makna budaya itu secara utuh. Sudah saatnya, peserta didik, dan masyarakat pada umumnya diberi ruang dan waktu serta sarana untuk berpartisipasi dalam pelestarian, dan pengembangan budaya di daerahnya. Sehingga nilai-nilai budaya tidak hanya dipahami sebagai tontonan dalam berbagai festival budaya, acara seremonial, maupun tontonan dalam media elektronik.
Masyarakat, sesungguhnya adalah pemilik budaya itu. Masyarakatlah yang lebih memahami bagaimana mempertahankan dan melestarikan budayanya. Sehingga budaya akan menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya pemeliharaan budaya oleh masyarakat, maka klaim-klaim oleh negara lain dengan mudah akan terpatahkan. Filter terhadap budaya asing pun juga dengan aman bisa dilakukan. Pada gilirannya krisis moral pun akan terhindarkan. Sudah saatnya, pemerintah pusat dan daerah secara terbuka memfasilitasi partisipasi masyarakat dalam upaya penguatan budaya nasional.
Dengan dasar di atas, kami bagian dari elemen bangsa ini bersumpah untuk:
- IKUT SERTA MEMELIHARA WARISAN BUDAYA BANGSA (NATIONAL HERITAGE).
- MENDESAK KEPADA PEMERINTAH UNTUK SERIUS MEMPERHATIKAN PEMBANGUNAN BUDAYA DAN MENSOSIALISASIKANNYA DI DUNIA PENDIDIKAN.
- MENGELUARKAN KEBIJAKAN YANG MENDUKUNG LESTARINYA NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL DAN NASIONAL YANG POSITIF DAN KONSTRUKTIF.
- MENYARING BUDAYA ASING YANG MASUK MELALUI AKTUALISASI BUDAYA.
- MENGGALANG SEMUA POTENSI BUDAYA YANG ADA MELALUI “MANAJEMEN BUDAYA” TATA KELOLA KEBUDAYAAN YANG BAIK DAN BENAR (GOOD CULTURAL MANAGEMENT/ GOOD CULTURAL GOVERNANCE).
TERTANDA
- KI SABDALANGIT, www.sabdalangit.wordpress.com
- MAS KUMITIR, www.alangalangkumitir.wordpress.com
- KI WONG ALUS, www.wongalus.wordpress.com
Rabu, 31 Maret 2010
Profil YPPN
Visi dan Misi
Membangun peradaban manusia untuk memajukan kesejahteraan rakyat Nusantara.
Melalui peradaban manusia YPPN betekad mensejahterakan rakyat Nusantara dengan mengemban amanat rakyat menuju cita-cita bangsa Indonesia yang adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan.
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
Kamis, 04 Maret 2010
Ciribon, Cirebon, Ki Semar, Ki Samar
Wafatnya Sultan Kanoman XI (Sultan Djalaludin) membawa permasalahan perebutan kekuasaan antara Pangeran Raja Muhammad Emirudin dengan Pangeran Muhammad Saladin.
Sesuai adat istiadat dan pepakem, yang berhak menjadi Sultan adalah putra yang lahir dari ibunda permaisuri yaitu Pangeran Raja Muhammad Emirudin, namun munculnya surat wasiat Sultan Kanoman XI (Sultan Djalaludin) yang bunyinya penyerahan tahta ke Pangeran Muhammad Saladin sebagai Sultan Kanoman XII, telah membawa Kasultanan Kanoman kepada konflik keluarga yang berujung ontran-ontran suksesi.
Meski Kasultanan Kanoman tidak lagi mempunyai pamor maupun pengaruh apa-apa bagi masyarakat Cirebon dan boleh dikatakan bahwa ikon feodalisme ini tengah mati ngorak …mati sendiri tanpa revolusi seperti Prancis… tak urung ontran-ontran suksesi ini berimbas kepada panasnya hawa yang sangat dirasakan kaum spiritualis Sunyaragi. Tempat para Sultan Cirebon bersamadhi.
Hawa panas ini sangat menggangu aktivitas spiritualis mereka & meresahkan. Maka dalam sebuah pertemuan mereka sepakat berupaya mencari jawab akan penyebabnya. Dalam meditasi yang mendalam para spiritualis mendapatkan wisikan bahwa Kasultanan Cirebon telah kehilangan Drijine Semar, Jarinya Semar.
Semar simbol Sang Pamomong, sosok yang serba samar rahasia lambang hakekat hidup disebut juga Sipat Sampurna telah kehilangan jarinya. Sementara para raja Jawa meyakini bahwa untuk mengukuhkan kekuasaan mereka haruslah diemong oleh Semar yang juga adalah symbol legitimasi dari rakyat.
Bila ada raja tanpa rakyat, raja macam apa itu? Mungkin itulah raja Kethoprak. Raja yang bukan lagi menjadi tuntunan namun hanya sekedar tontonan.
Tuntunan yang menjadi kewajiban raja bagi rakyatnya tak lagi mampu dipenuhi. Jari sebagai penunjuk arah telah hilang, dan mungkin tak lama lagi Semar Sang Pamomong akan sungguh2 oncat meninggalkan mereka.
Kaum spiritual Kasultanan menjadi makin prihatin akan keadaan ini. Mereka kembali melakukan meditasi guna memperoleh petunjuk lebih lanjut bagaimana mengembalikan jari Sang Pamomong. Dan diperolehlah petunjuk untuk mengutus salah satu dari mereka berjalan menuju kearah Timur ke sebuah kota yang memakai nama Semar. Nanti ditengah perjalanan mereka akan mendapatkan petunjuk lagi.
Setelah berembug, diutuslah dua orang dari mereka untuk melakukan perjalanan menuju Timur. Kebetulan salah satunya adalah seorang muda yang punya istri orang Semarang. Semar-ang ah mungkin itu maksud dari wisik yang mereka dapat.
Tak dicerita dalam perjalanan, mereka berdua sampai di Semarang & kebetulan bertemu Kyai kampung yang lalu ngomong-ngomong ngalor ngidul sampai menyinggung masalah Kanoman kehilangan jari Semar.
“Hmmm… Kasultanan Cirebon kehilangan jari Semar”, kata Mbah Kyai,
“Coba kalo diwayang itu Semar khan tangan kanannya selalu menunjuk seperti ini…Nah lalu coba kita lihat, dengan jari menunjuk seperti ini kamu yang suka ngaji pasti tahu dong huruf Arab apa yang ditunjukkan oleh telunjuk Semar..”
“Itu Alief…”kata mereka
“Nah kalo yang dibentuk oleh telunjuk dengan ibu jari?”
“Itu Lam…”
“Nah kalo yang dibentuk telunjuk dengan jari tengah?”
“Itu Miem…”
“Jadi jari Semar yang sedang menunjuk ini bila dibaca akan berbunyi Alief Lam Miem Dzalikal Kitab…”
“Surat Al Baqarah ayat pertama…Oh.. betul..”
“Lalu apa arti ayat tersebut…?”
“lha itu Mbah…guru ngaji saya nggak ngajari soal itu..katanya yang tahu cuma yang disana, nggak tahu juga sananya mana..”
“Welhadalah Kasultanan Cirebon… kerajaan Islam yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati salah satu Wali Sangha tak lagi mampu mengartikan Alief Lam Miem Dzalikal Kitab?” Si Mbah Kyai geleng-geleng.
“Begini…Semar adalah jarwadhosok dari HASEMING SAMAR-SAMAR yang secara harafiah berarti Sang Penuntun Makna Kehidupan, maka tangan kanannya selalu menunjuk. Jari yang seperti katamu tadi menyimbolkan Alief bagi orang urakan seperti saya adalah Urip, Hidup, Keesaan”
“Bener Mbah..” sahut mereka
“Hidup itu Esa, Tunggal, Manunggal dalam segala Sifat. ADA yang mendahului ada…. Ada inilah yang lalu berkembang menjadi kesadaran dalam diri manusia yang mulai berkata AKU…dan terus mencoba mencari kesejatian AKU. Hidup yang mendapatkan kesadaran dalam diri manusia ini berasal dari Alief Lam Miem atau bagi orang urakan seperti saya dinamakan Gatholoco, bersatunya Rasa yang melahirkan Kitab…dzalikal kitab….bukan Taurat, Zabur, Injil atau Quran. Namun adalah diri manusia itu sendiri Kitab Basah yang ditulis dari air & darah.
Maka dikatakan sebagai ADAMMAKNA, Hidup yang berkesadaran. Kitab yang tak akan pernah berhenti ditulis selalu berkembang seiring perkembangan hidup manusia.” Jelas Si Mbah Kyai nerocos terus
“Jadi teruslah berjalan jangan pernah berhenti memaknai seperti yang telah ditunjukkan oleh Semar…maka kalian tak akan kehilangan lagi jarinya hehehehe…”
“Lalu apa hubungannya dengan suksesi di Kanoman Cirebon?”
“Suksesi itu tak berdampak apa-apa…selain bahwa ikon feodal itu tengah hancur sendiri dari dalam & itu memang telah dinubuatkan bahwa kalo Indonesia ingin jadi mercusuar dunia, Kraton-kraton seperti itu harus hancur terlebih dulu..”
“Maksudnya..?”
“Yah..khan sudah diberi tahu sama Kyai Semar kalo semua itu hanyalah belenggu yang menghalangi manusia menuju kepenuhan hidup..berhenti memaknai Hidup dan membebek saja dengan apa yang telah diklaim sebagai menara gading kebenaran…sejatinya tonggak rusak yang tak bisa dijadikan pathokan lagi.”
“Hmmm…..”
“Semar adalah suatu lambang dari pengejawantahan ekspresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Kyai Semar terkenal dengan sabdanya HAYWA SAMAR DUR SUKERING KAMURKAN, MRIH DU KAMARDIKAN BAYA SIRA HARSA MARDIKA, artinya “merdekanya jiwa dan sukma”, berani mbirat dur sukering kamurkan, membersihkan jiwa yang dalam bahasa Jawa ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu atau dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup. Inilah yang seharusnya diperjuangkan oleh kaum spiritual seperti kalian & juga oleh seluruh bangsa Indonesia ini.”
”Maksudnya untuk sungguh merdeka kita tak boleh tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian?”
”Begitu juga bisa, namun secara holistik petunjuk Semar tadi mengisyaratkan kita untuk melakukan REVOLUSI KULTUR, kultur yang berarti mencakup pula mental spiritual kita sebagai makhluk bernama manusia ini.”
”Dilanjut Mbah..”
”Diakui dong kalau kita telah dibentuk sedemikian rupa oleh doktrin yang membuat kita jadi bebek tadi, jari Semar memberi petunjuk kita untuk terus berjalan menjadi manusia utuh. Merevolusi kultur yang telah dibelenggu doktrin untuk menjadi manusia baru.Manusia baru yang memahami Alief Lam Miem Dzalikal Kitab bahasa Arabnya. Bahwa semua manusia dimuka bumi ini sama berasal dari Hidup yang sama & dijadikannya juga sama pakai Gatholoco hehehehe… dengan ini kita secara pribadi mampu menuju kepada kepenuhan hidup dan secara luas sebagai bangsa mampu menjadi mercusuar dunia”
”Maksudnya kita akan menjadi negara & bangsa adidaya dimuka bumi ini?”
”Hahahaha..mercusuar itu khan penanda agar kapal tidak menabrak karang..”
”Lalu apa maksudnya?”
”Ya dengan merevolusi kultur & menjadi manusia baru kita dapat jadi titisan-titisan Semar yang mampu memberi petunjuk yang benar & pamong seluruh umat..bahasanya Memayu Hayuning Bawana yang tidak cuma sekedar slogan… Kita akan mampu mendamaikan keturunan Ibrahim, si Ishak & Ismail yang tak jemu & bosannya terus menumpahkan darah saudara…karena berebut kebenaran. Kebenaran yang fasis & bengis.
“Semar disebut juga Ismaya, Maya adalah cahaya hitam, guna membuat semua Samar. Jadi yang ada itu sesungguhnya tidak ada. Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan. Yang bukan dikira iya.Yang bersemangat hatinya, hilang semangatnya, sebab takut kalau keliru.Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.Tidak ada lagi fasis, bengis & otoriter.”
“Waduh terima kasih banyak Mbah atas penjelasannya yang gamblang.”
“Wah saya yang harus berterima kasih sudah ada yang mendengarkan saya ndobos….. hehehe…. sama ini rokoknya sudah nggak bikin mulut saya kecut lagi…”
Sesuai adat istiadat dan pepakem, yang berhak menjadi Sultan adalah putra yang lahir dari ibunda permaisuri yaitu Pangeran Raja Muhammad Emirudin, namun munculnya surat wasiat Sultan Kanoman XI (Sultan Djalaludin) yang bunyinya penyerahan tahta ke Pangeran Muhammad Saladin sebagai Sultan Kanoman XII, telah membawa Kasultanan Kanoman kepada konflik keluarga yang berujung ontran-ontran suksesi.
Meski Kasultanan Kanoman tidak lagi mempunyai pamor maupun pengaruh apa-apa bagi masyarakat Cirebon dan boleh dikatakan bahwa ikon feodalisme ini tengah mati ngorak …mati sendiri tanpa revolusi seperti Prancis… tak urung ontran-ontran suksesi ini berimbas kepada panasnya hawa yang sangat dirasakan kaum spiritualis Sunyaragi. Tempat para Sultan Cirebon bersamadhi.
Hawa panas ini sangat menggangu aktivitas spiritualis mereka & meresahkan. Maka dalam sebuah pertemuan mereka sepakat berupaya mencari jawab akan penyebabnya. Dalam meditasi yang mendalam para spiritualis mendapatkan wisikan bahwa Kasultanan Cirebon telah kehilangan Drijine Semar, Jarinya Semar.
Semar simbol Sang Pamomong, sosok yang serba samar rahasia lambang hakekat hidup disebut juga Sipat Sampurna telah kehilangan jarinya. Sementara para raja Jawa meyakini bahwa untuk mengukuhkan kekuasaan mereka haruslah diemong oleh Semar yang juga adalah symbol legitimasi dari rakyat.
Bila ada raja tanpa rakyat, raja macam apa itu? Mungkin itulah raja Kethoprak. Raja yang bukan lagi menjadi tuntunan namun hanya sekedar tontonan.
Tuntunan yang menjadi kewajiban raja bagi rakyatnya tak lagi mampu dipenuhi. Jari sebagai penunjuk arah telah hilang, dan mungkin tak lama lagi Semar Sang Pamomong akan sungguh2 oncat meninggalkan mereka.
Kaum spiritual Kasultanan menjadi makin prihatin akan keadaan ini. Mereka kembali melakukan meditasi guna memperoleh petunjuk lebih lanjut bagaimana mengembalikan jari Sang Pamomong. Dan diperolehlah petunjuk untuk mengutus salah satu dari mereka berjalan menuju kearah Timur ke sebuah kota yang memakai nama Semar. Nanti ditengah perjalanan mereka akan mendapatkan petunjuk lagi.
Setelah berembug, diutuslah dua orang dari mereka untuk melakukan perjalanan menuju Timur. Kebetulan salah satunya adalah seorang muda yang punya istri orang Semarang. Semar-ang ah mungkin itu maksud dari wisik yang mereka dapat.
Tak dicerita dalam perjalanan, mereka berdua sampai di Semarang & kebetulan bertemu Kyai kampung yang lalu ngomong-ngomong ngalor ngidul sampai menyinggung masalah Kanoman kehilangan jari Semar.
“Hmmm… Kasultanan Cirebon kehilangan jari Semar”, kata Mbah Kyai,
“Coba kalo diwayang itu Semar khan tangan kanannya selalu menunjuk seperti ini…Nah lalu coba kita lihat, dengan jari menunjuk seperti ini kamu yang suka ngaji pasti tahu dong huruf Arab apa yang ditunjukkan oleh telunjuk Semar..”
“Itu Alief…”kata mereka
“Nah kalo yang dibentuk oleh telunjuk dengan ibu jari?”
“Itu Lam…”
“Nah kalo yang dibentuk telunjuk dengan jari tengah?”
“Itu Miem…”
“Jadi jari Semar yang sedang menunjuk ini bila dibaca akan berbunyi Alief Lam Miem Dzalikal Kitab…”
“Surat Al Baqarah ayat pertama…Oh.. betul..”
“Lalu apa arti ayat tersebut…?”
“lha itu Mbah…guru ngaji saya nggak ngajari soal itu..katanya yang tahu cuma yang disana, nggak tahu juga sananya mana..”
“Welhadalah Kasultanan Cirebon… kerajaan Islam yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati salah satu Wali Sangha tak lagi mampu mengartikan Alief Lam Miem Dzalikal Kitab?” Si Mbah Kyai geleng-geleng.
“Begini…Semar adalah jarwadhosok dari HASEMING SAMAR-SAMAR yang secara harafiah berarti Sang Penuntun Makna Kehidupan, maka tangan kanannya selalu menunjuk. Jari yang seperti katamu tadi menyimbolkan Alief bagi orang urakan seperti saya adalah Urip, Hidup, Keesaan”
“Bener Mbah..” sahut mereka
“Hidup itu Esa, Tunggal, Manunggal dalam segala Sifat. ADA yang mendahului ada…. Ada inilah yang lalu berkembang menjadi kesadaran dalam diri manusia yang mulai berkata AKU…dan terus mencoba mencari kesejatian AKU. Hidup yang mendapatkan kesadaran dalam diri manusia ini berasal dari Alief Lam Miem atau bagi orang urakan seperti saya dinamakan Gatholoco, bersatunya Rasa yang melahirkan Kitab…dzalikal kitab….bukan Taurat, Zabur, Injil atau Quran. Namun adalah diri manusia itu sendiri Kitab Basah yang ditulis dari air & darah.
Maka dikatakan sebagai ADAMMAKNA, Hidup yang berkesadaran. Kitab yang tak akan pernah berhenti ditulis selalu berkembang seiring perkembangan hidup manusia.” Jelas Si Mbah Kyai nerocos terus
“Jadi teruslah berjalan jangan pernah berhenti memaknai seperti yang telah ditunjukkan oleh Semar…maka kalian tak akan kehilangan lagi jarinya hehehehe…”
“Lalu apa hubungannya dengan suksesi di Kanoman Cirebon?”
“Suksesi itu tak berdampak apa-apa…selain bahwa ikon feodal itu tengah hancur sendiri dari dalam & itu memang telah dinubuatkan bahwa kalo Indonesia ingin jadi mercusuar dunia, Kraton-kraton seperti itu harus hancur terlebih dulu..”
“Maksudnya..?”
“Yah..khan sudah diberi tahu sama Kyai Semar kalo semua itu hanyalah belenggu yang menghalangi manusia menuju kepenuhan hidup..berhenti memaknai Hidup dan membebek saja dengan apa yang telah diklaim sebagai menara gading kebenaran…sejatinya tonggak rusak yang tak bisa dijadikan pathokan lagi.”
“Hmmm…..”
“Semar adalah suatu lambang dari pengejawantahan ekspresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Kyai Semar terkenal dengan sabdanya HAYWA SAMAR DUR SUKERING KAMURKAN, MRIH DU KAMARDIKAN BAYA SIRA HARSA MARDIKA, artinya “merdekanya jiwa dan sukma”, berani mbirat dur sukering kamurkan, membersihkan jiwa yang dalam bahasa Jawa ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu atau dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup. Inilah yang seharusnya diperjuangkan oleh kaum spiritual seperti kalian & juga oleh seluruh bangsa Indonesia ini.”
”Maksudnya untuk sungguh merdeka kita tak boleh tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian?”
”Begitu juga bisa, namun secara holistik petunjuk Semar tadi mengisyaratkan kita untuk melakukan REVOLUSI KULTUR, kultur yang berarti mencakup pula mental spiritual kita sebagai makhluk bernama manusia ini.”
”Dilanjut Mbah..”
”Diakui dong kalau kita telah dibentuk sedemikian rupa oleh doktrin yang membuat kita jadi bebek tadi, jari Semar memberi petunjuk kita untuk terus berjalan menjadi manusia utuh. Merevolusi kultur yang telah dibelenggu doktrin untuk menjadi manusia baru.Manusia baru yang memahami Alief Lam Miem Dzalikal Kitab bahasa Arabnya. Bahwa semua manusia dimuka bumi ini sama berasal dari Hidup yang sama & dijadikannya juga sama pakai Gatholoco hehehehe… dengan ini kita secara pribadi mampu menuju kepada kepenuhan hidup dan secara luas sebagai bangsa mampu menjadi mercusuar dunia”
”Maksudnya kita akan menjadi negara & bangsa adidaya dimuka bumi ini?”
”Hahahaha..mercusuar itu khan penanda agar kapal tidak menabrak karang..”
”Lalu apa maksudnya?”
”Ya dengan merevolusi kultur & menjadi manusia baru kita dapat jadi titisan-titisan Semar yang mampu memberi petunjuk yang benar & pamong seluruh umat..bahasanya Memayu Hayuning Bawana yang tidak cuma sekedar slogan… Kita akan mampu mendamaikan keturunan Ibrahim, si Ishak & Ismail yang tak jemu & bosannya terus menumpahkan darah saudara…karena berebut kebenaran. Kebenaran yang fasis & bengis.
“Semar disebut juga Ismaya, Maya adalah cahaya hitam, guna membuat semua Samar. Jadi yang ada itu sesungguhnya tidak ada. Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan. Yang bukan dikira iya.Yang bersemangat hatinya, hilang semangatnya, sebab takut kalau keliru.Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.Tidak ada lagi fasis, bengis & otoriter.”
“Waduh terima kasih banyak Mbah atas penjelasannya yang gamblang.”
“Wah saya yang harus berterima kasih sudah ada yang mendengarkan saya ndobos….. hehehe…. sama ini rokoknya sudah nggak bikin mulut saya kecut lagi…”
Sabtu, 07 November 2009
MENCARI HAKIKAT PADA ALAM

Benarkah langit itu biru, taman itu hijau dan pasir itu putih.
Benarkah madu itu manis, maja itu pahit.
Apakah kayu itu benda kaku, sutera itu lemas.
Benarkah batu itu benda mati.
Betulkah kaca itu bening, tembok itu masif tak tembus cahaya.
*
Tentu saja tidak.
Semua yang bisa dilihat, diraba, dicium dan dirasa bukanlah hakekat. Cahaya yang terbias melalui prisma terurai menjadi tujuh. Apakah tujuh warna itu hakikat?
Tidak.
Tujuh warna adalah spektrum panjang gelombang, perbedaan frekuensi, tidak lebih dan tidak kurang.
Namun itulah keterbatasan mata manusia.
Kelemahan mata kita adalah nikmat Allah sebagai indera yang tidak mampu melihat spektrum gelombang dan merasakan getaran frekuensi sebagai getaran. Yang terjadi hanyalah reaksi saraf di selaput jala mata yang menerima getaran dan meneruskan ke pusat syaraf di otak yang menterjemahkan getaran berita syaraf menjadi warna dan bentuk.
Tetapi gelombang cahaya bukanlah warna. Daun yang hijau bukanlah hijau.
Hijau adalah bahasa otak yang menerima getaran syaraf berdasarkan informasi selaput jala dari sejumlah getaran gelombang dengan frekuensi tertentu yang datang ke arah kita setelah ditolak oleh daun yang menerima cahaya.
Warna-warna pada hakikatnya adalah bukan warna.
***
Gula adalah gula. Manisnya gula bukanlah hakikat gula. Untuk yang sehat gula itu manis. Bagi si sakit, syaraf lidahnya memberi isyarat yang berbeda… gula itu pahit. Manis dan pahit adalah bahasa otak, sedangkan gula adalah GULA.
Dinding tembok tidaklah masif. Karena dinding terdiri dari molekul yang terikat dalam ruang kosong antar molekul. Molekul terdiri dari atom yang tergabung dalam ruang antar atom. Sayangnya mata kita amat lemah dan tidak mampu melihat elektron berputar seperti planet di sekeliling matahari. Tembok menjadi masif, karena mata tidak mampu melihat ruang kosong diantara atom dan molekul.
***
Maka seniman menampilkan dunia yang berbeda, karena dunia ini memang tidak seperti yang terlihat. Jika kita melihat langit itu biru, seniman menggambarkan hitam legam bergaris putih atau seperti bulu merak aneka warna.
Seorang saintis berbeda dengan seorang seniman. Jika seniman mencari hakekat dengan intuisi dan perasaan, maka saintis menggunakan rumus-rumus dan hitungan.
Maka hakikat bintang berjarak 5 juta tahun cahaya dari bumi tidak kita tahu. Karena yang kita lihat adalah masa lampau bintang jutaan tahun yang lalu. Karena itu mata adalah mudah dibohongi. Mungkinkah kita silau oleh kilatan cahaya sesuatu yang sebenarnya tidak berwujud.
Karena mata yang lemah, sinar ultra violet tidak terlihat. Begitu juga sinar infra merah. Meskipun secara hakikat kedua sinar tersebut ada, karena panjang gelombangnya tercatat oleh alat.
***
Lidah dan syaraf perasa yang tidak sempurna, ditambah otak yang mudah dimanipulasi. Jadi, dimanakah letak kekuatan manusia?
Alam yang kita lihat bukanlah alam sebenarnya, semata-mata istilah yang kita berikan sendiri. Padahal seluruh tanggapan indera kita bersifat relatif, bukan hakikat
Minggu, 18 Oktober 2009
Jaya Baya
PENDAHULUAN
Ramalan Jayabaya versi Sabda Palon - ini pernah saya buat sebagai artikel bersambung di muat di Harlan Berita Buana Jakarta, dimulai tgl. 30 Januari 1975 hingga rampung. Di dalam buku ini kita sempurnakan lagi sesuai dengan cara penyusunan buku sederhana (ilmiah populer) dengan maksud, agar para pembaca yang tidak sempat mengikuti secara tertib lewat surat kabar tersebut, dapat menikmati isinya secara tenang dan komplit, lewat penerbitan buku ini. Naskah ini sebenarnya telah lama dipersiapkan dan akan dkerbitkan, tetapi karena sesuatu hal terpaksa mundur hingga setahun lebih.
Halangan penerbitannya karena kebetulan korektornya meninggal dunia, akan tetapi sebelumnya penulis sudah mendapat keterangan bahwa naskah itu sudah lolos dari sensor dan bahkan tidak banyak kalimat-kalimat yang dicoret, maka berterima kasih banyaklah saya sebagai penulis.
Dari berbagai sumber dan keterangan yang saya Kumpulkan mengenai Ramalan Jayabaya, maka dapatlah kesimpulan bahwa sumber ramalan ini sebenarnya hanya satu yakni "Kitab Asrar" karangan Sunan Giri Perapan (Sunan Giri ke-3) yang kumpulkannya pada tahun Saka 1540 = 1028 H = 1618 M, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya buku Pararaton tentang sejarah Majapahit dan Singosari yang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M. Jadi penulisan sumber ini sudah sejak jamannya Sultan Agung dari Mataram bertahta (1613-1645 M).
Kitab Jangka Jayabaya pertama dan dipandang asli, adalah dari buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran Kadilangu II) yang dikarangnya pada tahun 1666-1668 Jawa = 1741-1743 M. Sang Pujangga ini memang seorang pangeran yang bebas. Mempunyai hak merdeka, yang artinya punya kekuasaan wilayah "Perdikan" yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak! Memang beliau keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis bila beliau dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang riwayat masuknya Sang Brawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru, Islam, sebagai pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya ke-V dan Penasehat Sang Baginda benama Sabda Palon dan Nayaginggong, seperti yang akan kita uraikan dalam buku ini.
Disamping itu beliau menjabat sebagai Kepala Jawatan Pujangga Keraton Kartasura tatkala jamannya Sri Paku Buwana II (1727-1749). Hasil karya sang Pangeran ini berupa buku-buku misalnya, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, Raja Kapa-kapa, Sejarah Empu, dll.
Tatkala Sri Paku Buwana I naik tahta (1704-1719) yang penobatannya di Semarang, Gubernur Jenderalnya benama van Outhoorn 1) yang memerintah pada tahun 1691-1704. Kemudian diganti G.G van Hoorn (1705-1706), Pangerannya Sang Pujangga yang pada waktu masih muda. Didatangkan pula di Semarang sebagai Penghulu yang memberi Restu untuk kejayaan Keraton pada tahun 1629 Jawa = 1705 M, yang disaksikan GG. Van Hoorn.
Tatkala Keraton Kartasura akan dipindahkan ke desa Sala, sang Pujangga diminta pandapatnya oleh Sri Paku Buwana II, selanjutnya beliau diserahi tugas dan kewajiban sebagai peneliti untuk menyelidiki keadaan tanah di desa Sala, yang terpilih untuk mendirikan keraton yang akan didirikan pada tahun 1669 Jawa = 1744 M.
Sang Pujangga wafat pada hari Senin Pon, 7 Maulud Tahun Be Jam'iah 1672 Jawa 1747 M, yang pada jamannya Sri Paku Buwono 11 di Surakarta. Kedudukannya sebagai Pangeran Merdeka diganti oleh puteranya sendiri yakni Pangeran Soemekar, lalu berganti nama Pangeran Wijil II di Kadilangu (Pangeran Kadilangu III), sedangkan kedudukannya sebagai pujangga keraton Surakarta diganti oleh Ngabehi Yasadipura I, pada hari Kemis Legi,10 Maulud Tahun Be 1672 Jawa = 1747 M.
Jangka Jayabaya yang kita kenal sekarang ini adalah gubahan dari Kitab Musarar, yang sebenarnya untuk menyebut "Kitab Asrar" Karangan Sunan - Giri ke-3 tersebut. Selanjutnya para pujangga dibelakang juga menyebut nama baru itu.
Kitab Asrar itu memuat lkhtisar (ringkasan) riwayat negara Jawa, yaitu gambaran gilir bergantinya negara sejak jaman purbakala hingga jatuhnya Majapahit lalu diganti dengan Ratu Hakikat ialah sebuah kerajaan Silam pertama di Jawa yang disebut sebagai ”Giri Kedatan". Giri Kedatan ini nampaknya Merupakan jaman peralihan kekuasaan Islam pertama di Jawa yang berlangsung antara 1478-1481 M, yakni sebelum Raden Patah dinobatkan sebagai Sultan di Demak oleh para Wali pada 1481 M. Namun demikian adanya keraton Islam di Giri ini masih bersifat ”Hakikat” dan diteruskan juga sampai jaman Sunan Giri ke-3.
Sejak Sunan Giri ke-3 ini praktis kekuasaannya berakhir karena penaklukkan yang dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram; Sejak Raden Patah naik tahta (1481) Sunan Ratu dari Giri Kedatan ini lalu turun tahta kerajaan, diganti oleh Ratu seluruh jajatah, ialah Sultan di Demak, Raden Patah. Jadi keraton di Giri ini kira-kira berdiri antara 1478-1481 M atau lebih lama lagi, yakni sejak Sunan Giri pertama mendirikannya atau mungkin sudah sejak Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M (882 H). Setelah kesultanan Demak jatuh, (Sultan Trenggono); lalu tahta kerajaan jatuh ke tangan raja yang mendapat julukan sebagai "Ratu Bobodo" 2) ialah Sultan Pajang. Disebut demikian karena pengaruh kalangan Ki Ageng yang berorientasi setengah Budha/Hindu dan setengah Islam di bawah pengaruh kebatinan Siti Jenar, yang juga hendak di basmi pengaruhnya sejak para Wali masih hidup.
Setelah Kerajaan ini jatuh pula, lalu di ganti oleh penguasa baru yakni, Ratu Sundarowang ialah Mataram. 3) bertahta dengan gelar Prabu Hanyokro Kusumo (Sultan Agung) yang berkuasa di seluruh Jawa dan Madura. Di kelak kemudian hari (ditinjau, dari sudut alam pikiran Sri Sultan Agung dari Mataram ini) akan muncullah seorang raja bertahta di wilayah kerajaan Sundarowang ini ialah seorang raja Waliyullah yang bergelar Sang Prabu Herucakra yang berkuasa di seluruh Jawa-Madura, Patani dan Sriwijaya.
Wasiat Sultan Agung itu mengandung kalimat ramalan, bahwa kelak sesudah beliau turun dari tahta, kerajaan besar ini akan pulih kembali kewibawaannya, justru nanti dijaman jauh sesudah Sultan Agung wafat.
ini berarti raja-raja pengganti beliau dinilai (secara pandangan batin) sebagai raja-raja yang tidak bebas merdeka lagi. Bisa kita maklumi, karena pada tahun-tahun berikutnya praktis Mataram sudah menjadi negara boneka VOC yang menjadi musuh Sultan Agung (ingat perang Sultan Agung dengan VOC tahun 1628 & 1629 yang diluruk ke Jakarta/ Batavia oleh Sultan Agung).
Oleh Pujangga, Kitab Asrar digubah dan dibentuk lagi dengan pendirian dan cara yang lain. Yakni dengan jalan mengambil pokok/permulaan cerita Raja Jayabaya dari Kediri. Nama mana diketahui dari Kakawin Bharatayudha, yang dikarang oleh Mpu Sedah pada tahun 1079 Saka = 1157 M atas titah Sri Jayabaya di Daha/ Kediri.
Setelah mendapat pathokan/data baru, raja Jayabaya yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, sang pujangga (Pangeran Wijil) lalu membuat karangan berjudul "JANGKA JAYABAYA" dengan ini yang dipadukan antara sumber Serat Bharatayudha dengan kitab Asrar serta gambaran pertumbuhan negara-negara dikarangnya sebelumnya dalam bentuk babad.
Lalu dari hasil, penelitiannya dicarikan Inti sarinya dan diorbitkan dalam bentuk karya-karya baru dengan harapan dapat menjadi sumber semangat perjuangan bagi generasi anak cucu di kemudian hari. 4)*
Cita-cita yang pujangga yang dilukiskan sebagai jaman keemasan itu, jelas bersumber semangat dari gambaran batin Sultan Agung. Jika kita teliti secara kronologi, sekarang ternyata menunjukan gambaran sebuah negara besar yang berdaulat penuh yang kini benama "REPUBLIK INDONESIA"!.
Kedua sumber yang diperpadukan itu ternyata senantiasa mengilhami para pujangga yang hidup diabad-abad kemudian, terutama pujangga terkenal R.Ng. , cucu buyut pujangga Yasadipura I pengganti Pangeran Wijil I. (Lihat Bab I berikut ini).
Jangka Jayabaya dari Kitab Asrar ini sungguh diperhatikan benar-benar oleh para pujangga di Surakarta dalam abad 18/19 M dan sudah terang Merupakan sumber perpustakaan dan kebudayaan Jawa baru. Hal ini ternyata dengan munculnya karangan-karangan baru, Kitab Asrar/Musarar dan Jayabaya yang hanya bersifat jangka/ramalan belaka. Sehingga setelah itu tumbuh bermacam-macam versi teristimewa karangan baru Serat Jayabaya yang bersifat hakikat bercampur jangka/ramalan, akan tetapi dengan uRajan yang dihubungkan dengan lingkungan historisnya satu sama lain, sehingga Merupakan tambahan riwayat buat negeri ini. Semua itu telah berasal dari satu sumber benih, yakni Kitab Asrar (Sunan Giri) dan Jangka Jayabaya gubahan dari kitab Asrar tadi, plus serat Mahabarata karangan Mpu Sedah & Panuluh. Nanti akan kita terangkan jenis-jenis & versi Ramalan Jayabaya dan Asrar yang sudah di ganti sebutan dengan Kitab Musarar karya Pangeran Wijil, serta gubahan-gubahan pujangga Yasadipura serta .
Jangka Jayabaya versi Sabdo Palon ini kiranya dikarang Pangeran Wijil pada tahun 1675 Jawa = 1749 M. 5) Bersama dengan gubahannya ”Kitab Musarar”, berbentuk puisi. Dengan begitu menjadi jelasiah apa yang kita baca sekarang ini.
Notasi-Notasi :
1). *L. van Rijckevorsel, "Kitab riwayat Kepoelauan Hindia Timoer:, J.B. Wolter-Groningen Batavia, 1928 hal 87
2). R. Tanoyo, : Djongko DjoJobojo" Sadu Budi Sala, 1946 Hal/catatan tentang arti "bobodo" ialah raja yang menguasai seluruh wilayah yang rakyatnya masih bodoh-bodoh yang dipengaruhi keinginan para Ki Ageng pengikut Syech Siti Jenar yang ingin mengembalikan negerinya (Pajang) kearah jaman kebodohan yang menurut istilah Islam disebut jaman Jahiliyah. Sebutan demikian diberikan oleh para wali "Jajatah" berarti daging yang dipotong kecil-kecil yang akan disate sebagai pelengkap upacara sesaji untuk para dewa. Raja yang berkuasa diseluruh daerah "Jajatah" ialah Raden Patah, artinya wilayah yang meliputi bekas kekuasaan Mojopahit.
3). * Mataram pada saat Sultan Agung disebut pula "Sundarowang", yang kekuasaannya meliputi wilayah Jajatah plus tanah Pasudan/Pajajaran. ini ada hubungannya dengan riwayat/dangeng Ciyung Wanara.
4). * Lihatlah pula Moch. Hari Soewarno dalam Berita Buana 27-11-1979, " pengolah Ramalan Kitab Asrar yang disimpan kumpulkan oleh Sunan Giri Parapan Ke-3".
5). * Mengingat Pangeran Wijil sudah wafat tahun 1747 M, dua tahun sebelumnya karangan ini dimunculkan (1675 Jawa = 1749 M), maka persamaan tahun Masehinya = 1749 tidak masuk akal, karena itu karangan ini sangat boleh jadi dikutip aleh Yasadipura I, penggantinya.*
Tetapi setelah kita periksa lagi kata-kata permulaan setiap point dalam Pupuh 11 (9 point), bila kita baca dari angka satu hingga sembilan, dari atas kebawah, akan menunjukan nama sandi sang Pujangga : "R.Ng. Burhan Inggih (point 1 seluruhnya) Ing Surakarta." (Point 2 s/d 9)***
Sinyalemen Serat Jayabaya ini Pupuh II point 4 mirip sekali sinyalemen pujangga dalam serat Kala Tidha point 7 (jaman edan). Kalau serat Kala Tidha ditulis tahun 1769 Jawa = 1841 M, dengan ketika tahun 1700 Jawa = 1842 M, sang pujangga juga menyusun serat "Jangka Jayabaya" berciri prosa, maka serat Jangka Jayabaya versi Sabda Palon ini sangat boleh jadi ditulis sekitar tahun 1841 atau 1842 M. Kesimpulannya tidak meragukan lagi.
BAB I
RAMALAN JAYABAYA
1. Besuk yen wis ono kreto mlaku tanpa turonggo, tanah Jawa kalungan wesi, prahu mlaku ing awang-awang, kali padha ilang kedunge, pasar ilang kemandange, iku tondo yen tekane Jaman Djoyoboyo wis cedhak.
2. Bumi saya suwe saya mengkeret, sekilan bumi dipajeki, jaran doyan sambel, kreto roda papat setugel. Wong wadon nganggo pakaian lanang, iki bakal yen nemoni wolak-walike jaman.
3. Akeh janji ora dketepi, akeh wong nglanggar sumpahe dewe. Manungso podho seneng nyalah. Tan nindake hukume Allah. Barang jahat diangkat-angkat, barang suci dibenci.
4. Akeh manungso ngutamaka real. Lali kamanungsane, lali kebecikan, lali sanak lali kadhang. Akeh bapak lali anak, sedulur podho cidro, keluargo podho curigo, konco dadi mungsuh. Manungso lali asale.
5. Ukuman Ratu ora adil. Akeh pangkat kang jahat jail. Klakuan podho ganjil, wong sing apik podho kepencil. Makaryo apik manungso, isin, Luwih utomo ngapusi.
6. Wegah makarya kepingin urip kaya Raja. Ngumbar nafsu angkara murka anggedekake duroko. Wong bener tenger-tenger, wong salah bungah-bungah. Wong apik ditampik, wong jahat munggah pangkat.
7. Wong agung kesinggun, wong ala dipujo-pujo, wong wadon ilang wadone, ilang wirange. Wong lanang ilang lanange, ilang kaprawirane.
8. Akeh jago tanpo bojo, wanita podho ora setiyo, laku sedang bubrah jare gagah. Akeh biyung adal anak, akeh wanita adal awak. Bojo ijol-ijolan jarene jempolan.
9. Wong wadon nunggang jaran, wong lanang nunggang planqki. Rondo seuang loro, prawan saiga lima. Dhudo pincang payu sangang uwang.
10. Akeh adal ilmu, akeh wong ngaku-ngaku. Njabane putih, njerone dadu. Ngakune suci, sucine palsu. Akeh bujuk akeh loyo.
11. Akeh udan salah mongso, akeh prawan tuwo. Akeh rondo metheng, akeh bayi tanpo bapak. Akeh agomo akeh sing nantang, kamanungsan akeh sin ilang. Omah suci podho dibenci, omah olo podho dipujo-pujo. Wanita podho wani ing ngendi-ngendi.
12. Akeh laknat, akeh pengkhianat. Akeh anak mangan bapak. Sedulur nglarak sederek. Guru podho disatru. Buruh dadi mungsuh, tonggo podho curigo. Kono-kene soyo angkaro murko.
13. Sing weruh ketutuh, sing ora iyo ketutuh, mbesuk yen ono perang teko wetan, soko kulon, lor Lan kidul, wong becik soyo sengsoro Lan mbendul. Wong jahat podho seneng mangan berkat.
14. Wektu iki akeh dandang diunekake kuntul. Wong salah dianggap bener. Pengkhianat nikmat. Durjana sangsoyo sempurno. Wong lugu keblenggu. Wong mulyo dikunjoro.
15. Sing curang garang, sing jujur ancur. Wong dagang kemlanggang. Wong judi podho ndadi. Akeh barang kharam, akeh anak kharam. Prawan cilik podho ngidam, wanita podho nglamar priyo, isih bayi wis podho mbayi. Sing priyo ngasorake drajade dhewe.
16. Wong golek pangan pindho gabah dan interi. Sing kebat, kebat kliwat, sing kasep Kepleset. Sing gawe rame tompo gawe, sing cilik kecelik, sing anggak ketungkak. Sing wedi podho mati, nanging sing ngawur podho Makmur. Sing ngati-ngati sesambat kepati.
17. Akeh barang klebu luwang, akeh wong kaliren Lan wudho, ora dhuwe wirang mergo kepekso. Wong tuku nglenik sing dodol, sind dodol akal-akal.
18. Pancen wolak-walike jaman. Amenangi jaman edan, sing ora edan ora keduman. Sing waras podho nggaqas. Wong wani ditaleni. Wong doro podho uro-uro. Begja-begjane sing eling Lan waspodho.
19. Ratu ora netepi janji, musno kuwasane Hang perbawane. Akeh omah ing ndhuwur jaran. Wong podho mangan uwong. Kayu gligen Lan wesi podho kolu diroso enak koyo ruti bolu. Yen bengi ora Iso turu.
20. Dagang barang saya laris, bandane saya ludes. Akeh wong kaliren ing sisihe panganan. Akeh wong nyekel bondho ning uripe sangsoro. Sing edan bisa podho dandan, sing bengkok bisa nggalang omah gedhong magrong-magrong.
21. Wong waras Lan adil uripe anggagas Lan kepencil. Sing ora bisa maling, podho digething. Sing pinter duroko pudho dadi konco. Wong bener soyo thenger-thenger, wong salah soyo bungah-bungah begjane sing eling. Akeh bondho musno ora karuan larine. Akeh pangkat Lan drajat podho ningkat ora karuan sebab sebabpe.
22. Rawa podho dadi bero, ebila janmo manungso. Ebila majelis manungso soro. Wong bener thenger-thenger, wong salah bungah-bungah. Begjane sing elingi, begjane sing lali, nanging isih begja sing waspodho.
23. Mulo dan tkenono. Manungso Jowo mengku Ratu, wis ora bapa ora ibu, titikane nganggo ketu bengi asirah watu wesi. Pangapasane wanodyo ngiwi-iwi. Jejuluk sarwo Agung edi.
24. Banjir bandang ono ngendi-ngedi, gununq njlebug tan njarwani, lan ngimpeni gethinge kepati-pati marang pandhito-pandhito pati geni. Margo wedi kewiyak wadhi. Sopo arane sejati.
25. Ratu digdoyo ora tadis tapak palune pandhe sisa gurindo. Ning apase mungsuh setan, tuyul ambregudul, bocah cilik pating pendelik ngubengi omah sorak-sorak koyo nggusak pitik. Ratu atine dadi cilik. Ngundomono bolo sabrang sing doyan asu.
26. Patine nunggu sabdo Bupatine Perang Bathoro Endro. Disabdo mati tan keno mimis, tan keno panggawe olo, nanging cures ludes margo lemes. Ketekan bayu priyanggo sinendal sinambi miring. Patine amargo kecepit Sakating daging.
27. Ono wong tuwo ahli topo Agung. Muncul neng tengah gunung Kendang angrasuk busono ireng, ambiyantu Ratu sing dirubung tuyul anggereng. Pandhito iku ajejuluk Condro Sjji Jawa.
28. Adedagang carang klambi udang Lan lawe benang. Disujudi wong lanang sapirang-pirang. Umumyo tan panjang, namong saudarao Jowo bang.
29. Tutupe udarao jolu ngolu, udarao kaping jinggo nem pindho taun Masehi. Amargo tinutup kuali lumuten, kinepung semut ijo danten.
30. Polahe wong Jowo kadya gabah dan interi. Endi sing bener endi sing sejati. Poro topo ora wani podho wedi anylarake wewulang edhi margo salah-salah nemu pati.
31. Hamongso wus udarao jilu mo udarao Jowo ngolas molu udarao iso. Bakal ono Dewo angejowantah, apangawak manungso, apasuryan pindho Bethoro Kresno awewatak Bolo Dewo agaman Tri Sulo Wondho.
32. Sadurunge teko ono tetenger, lintang kemukus dowo ngalu-alu tumonjo ono kidul wetan bener. Lawas pitung bengi, parak esuk benter, ilang katut Bathoro Suryo. Jumedul bebarungan prihatin, sing wis mungkur, yoiku poro Dipati sing ngempet-ngempet sumur daning manungso anak turune setan mabur prihatine kawulo kelantar-lantar, iku tandhane putro Bethoro Endro wus katampo topo lagi teko. Ing Marcopodho ambiyantu wong Jowo.
33. apaparap Pangeran prang, tan pekso angone nyangang. Ngerahake sakabehing jim setan kumoro prewangan poro lelembut kebawah prentah saeko proyo, kinen ambiyantu poro manungso Jowo. Podho asesende. senjoto Tri Sulo Wondho. Kaderekake Sabdo Palon Nayaginggong.
34. Putro kinasih sawargi Sunan Lawu. Yo Kyai Ageng Brojomurti, yo Kresno yq Harimurti. Mumupuhi sakabehing Iaku, nugel tanah jowo kaping pindho.
35. Nyuwun laki rabi ora gantalan ratri mesti amujuti, mundhut sugih katuntun garis. Nyuwun upo mesti sembodo, garis sabdo ora gantalan. Bejo begjane sing yakin Lan tuhu setyo sabdaniro.
36. Dewane mung siji, kiblate ngalor ngulon. Yen nyembah nyungkemi lemah silo, ngedangkreng karo andremiming. Sambate anggelak blabar lan olah-olah salah ngematake sayur mentah. Nanging ugo bisa nyembadani ruwet tentreming wong sapirang-pirang, sing podho nyembah reco andhaplang. Cino eling omah-omahe. Kabeh pinaringan sabdo yo podho manthuk-manthuk.
37. Pendak suro nguntapake kumara kang katan nebus dosanira, kaadepake ngarsane kang kuwoso. Isih timur kaceluk wong tuwo, pandereke Gatutkoco sak yuto.
38. Idune idu geni, sabdane malati sing mbregudul mesti mati, ora tuwo ora enom podho dane bayi wani ora andayani. Yen kerso sinujudan wong tanah Jowo, nanging mung dipilih sopo-sopo.
39. Waskito pindho Dewo, bisa nyumurupi lahiriro, embahiro, buyutiro, canggahiro pindho lahir barung sedino. Ora keno diapusi mergo bisa moco ati. Wasis micoro, pinter wegig tumompo.
40. Dunung ono sasikili Redi Lawu sisih wetan, wetane Bengawan banjir, adedukuh pindho Raden Gatutkoco, arupo pagupon doro tundho tigo, kaya manungso sing angleledho.
41. Yen siro nyebut namine mesti dadi rame, asmane bisa ngramekake sing rame, sing kasinungan ebila wewe.
42. Adhepe pondhok tan karuan kiblate, mulo yo ngerti jantrane jaman. Abondho bandhu nanging ora duwe, titihane turonggo asikil limo cacahe. Ulese pasurya Bolo Dewo, gigire nganggo ules Getihe Punto Dewo.
43. Yen katitih playune pindho ibere Gatotkoco. Sing nitih yo titihane Bathoro Kresno yen nitih ono wetenge turonggo.
44. Yen krungu asmane podho gething, yen wus kenal podho nyanghing, sucihik suthik ditinggal plencing. Begja begjane sing bisa nyanghing. Biso akas digdoyo tanpo aji keling. Pindho manungso digdoyo kaya Baru Klinting.
45. Bupati apaparap Bupatine Prang, sing wani bakal wirang. Yen nglurug tanpo bolo, digdoyo tanpo aji opo. Lamun menang tanpo ngasorake liyo. Pancen sugih nanging tan abondho.
46. Wasis wegig, waskito, ngerti sadurunge winarah, pindho Dewo angejowantah. Biso pirso embahiro, angawuningani jantrane jaman Jowo, ngerti garise siji-sijine umat tan kalepyan susurupe jaman.
47. Mulo dan, upadinen sinatriyo Iku, wus tanpo bapa Lan bitu, lola wus apupus wido Jowo, mung ngandelake Tri Sulo, landepe tri sulo putuk, arupo suthik gegawe, gegawa pati utowo utang nyowo. Sing tengah sirik gegawe kapitunane liyan, sing pinggir tolak colong jupuk winarno.
48. Serik dan menehi ati melati, bisa kesiku. Senenge anggondo ajejaluk coro nistho, mangertiyo iku coba, ojo kaino-ino, hegja-begjane sing dipundhuti. Ateges ditompo jantraniro, kaemong siro sabroyo.
49. Ing aran Begawan, wong dudu Pandhito, sinebut Pandhito dudu Dewo, sinebut Dewo kayo manungso, kinen anggep manungso, eming duwe doyo tan opo ditakani tan dinalekake tan ono jontro kang disisihake kabeh kajarwakake jlentreh arang-arang terang adrandang.
50. Ojo gumun ojo ngungun, yo iku Bathoro Endro, kang pembayun. Turase kuwoso mbendhung setan. Idune tirto Brojomusthi, pisuh kaya ngundhuh yoiku kang bisa paring pituduh, marang jarwane jongko kalaningsun. Tan keno dan apusi, margo bisa manjing jroning ati, ono manungso serik ojo gelo, iku dudu wektuniro; ngangsuo sumur Ratu Tanpo Makutho.
51. Nanging musnae tanpo lari, ing tembe udarao Jowo Ngolas Rodas, udarao Isa Jingo Ngalu molu sing menangi enggalo dan luri. Ojo kongas jaman kandas mandhepo dan marikelu, begjo begjane anak putu.
52. Iki dalane sing eling Lan waspodho, Ing jaman Kala Bendu Jowo, ojo nglarang dalan wong ngluri, wong pangawak Dewo, Dewo pangawak manungso, sing malang-malang bakal cures ludes sak broyo diomo Kumoro. Ojo kleru Pandhito samudano. Lurinen Pandhito asenjoto Tri Sulo Wondho. Iku paringane Dewo.
53. Lenggahing Pembayun, Bethoro Endro; bebarungan jaman angkaro murko soyo ndadi, kono-kene soyo bingung, akeh wong kabiluk melu curang, kawulo wani bandoro, buruh wani juragan, juragan dadi umpan, sing asuworo seru sora oleh bolo. Wong pinter diinger, akeh wong pinter podho keblinger. Wong olo podho dipujo, wong ngerti mangan ati.
54. Bondho dadi suwolo, pangkat dadi pikat. Sing menang podho sawenang-wenang rumongso menang, sing salah mung ngalah rumongso kabeh salah. Ono bupati soko wong asor imane. Pepatih Kepala Judi, sing ati suci soyo dibenci, sing jahat pinter anjilat tur oleh hajat, sing maling tenguk-tenguk nemu kethuk, pitik angrem sak dhuwure pikulan.
55. Begal podho andugal, rampok keplok, wong omong mitenah sing diomong. Wong jogo nyolong sing dijogo, wong njaluk dijamin, amargo wedi dadi karmane sing jahat, sing jahil. Wong cilik kepencil.
56. Ono janma ngaku-ngaku dadi ratu, dhuwe bolo lan prajurit. Negarane ambaran saprowolon umbul-umbul warno jenang gulo. Tinengeran gamane cah angon rojo koyo, disulutri gamane pandhe pandhe wojo. Wong suci dibenci, wong jahat diangkat drajad, timah dianggep perak, emas dianggep tembogo, dandang diunekake kuntuk, wong dosa sentoso, wong becik dkekik, maling lepas giring, sing maling kepethuk maling.
57. Akeh sing tudhung kuwali lumuten, podho kepikut katut, janji menehi drajad jebulane ngajak mlarat, pinter micoro sing bener digawe olo puntone podho mati neng pinggir kali, tanpo sirah namung gembung.
58. Wanita angger wani, jebule kelangan laki, laki mati tan karuwan kubure tan karuwan dinane, akeh mati tanpo slametan, modin podho ngungsi mergo wedi mati, sing ngurusi wong mati digawe pati.
59. Iku balesane Semut Ijo kang kelangan Nganorang sapto, linuweng ing sumur Jolotundho kang kebak isi boyo. Iku tandane mungkure jaman, jaman wong sugih kroso wedi, wong wedi dadi priyayi, senenge wong jahat susahe wong becik.
60. Nanging manungso podho kuciwo margo dakwo-dinakwo. Ratu podho rembugan negoro endhi sing dipilih lan disenengi. Hera-heru wong Jowo kari separo, Londo Cino kari sejodo.
61. Cino arang eling, keplantrang dibandem ganciring, melu wong Jowo sing podho eling, sing ora eling podho muring, mlayu-mlayu koyo maling keno tuding, mergo tinggal podbo digething. Barung ayo mulih podho manjing.
62. Akeh Wong ijir, wong cilik sing eman. Selot-selote mbesuke, wolak-walike jaman, wong nyilih mbalekake, wong utang mbayar, utang nyowo nyaur nyowo, utang wirang nyaur wirang.
63. Akeh wong dicakot lemut mati. Dicakot semut sirno. Akeh suworo aneh tanpo bolo, prewangan mahluk alus podho baris, podho rebut gawe bebener garis, tan kasad moto, tan arupo sing mandegani putrane Bethoro Endro.
64. Agaman Tri Sulo Wondho. Momongane dadi nayakane perang. Perang tanpo bolo, sekti mandrAgung tanpo aji, nglurug tanpo wadya bolo. Yen to menang tan ngasorake, podho sugih tan abondho.
65. Ratu tanah Jowo mung siji nanging podho nyawiji. Agaman agodhong pring nom, atetenger lintang belik, anyekel gaman uleg-uleg wesi lambung, pandereke anyangklong once londo isine lombok kuning. Bumbung wulung tan rosan gineret kreto tan turonggo.
66. Nanging kombak mosiking dane suworo gemrenggeng pindho tawon gung, sing nganglang Gatutkoco, kembar sewu. Suksmane iwak lodan munggah daratan. Kawulo podho suko-suko margo adiling Pangeran wus teko.
67. Ratune nyembah kawulo, pandereke yo podho ngujo, iku momongane Pangeraning Prang. Sing wis adus wirang nanging kondang, sing agaman Tri sulo Wondho, genah kiblate gamblang tur njingglang, ora ono wong ngersulo, gemah ripah loh jinawi, kolo bendu wis mingser/mungkur ganti wuku.
Shalat Hak Dzat
SHOLAT HAK DAT
(SHOLATNYA PARA WALI ALLOH)
A'UDUBILAHI MINASYAITON NIRROJIM
BISMILAHIR ROHMANIR ROHIM
ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUH
Empat Kiblat (Opat Mazhab)
Balik kanan
Qomat (Cemeluk)
Allahu Akbar, Allah Ngawujud akbar saka ananing manungsa sampurna kupanarima usikum manusa sujud kanu maha langgeng, hak langgeng urip, urip salawase tan kenaing lara tan kenaing pati. Ya Hu, Hu Nurullah, Ya Hu, Hu Sirulloh, Ya Hu, Hu Dzatulloh, Ya Hu, Hu Sifatulloh, Ya Hu, Hu Asmalulloh, Ya Hu, Hu Af'alulloh, Ya Hu, Hu Wujudulloh.
Asolatu Asolatu Asolatu Hak Dat Gumelar, Asyhadu ala ila hailaloh wa asyhadu ana kudrat pasti Rosululloh. Ya Alloh 3x, Ya Muhammad 3x, Ya Rosululloh 3x, Ya Ruhul azid Ya Hadir 3x.
Rokaat 1
Asyhadu tibaning rasa ilalloh ngajadining rasa ilalloh sapatemoning rasa ilalloh Sejatining rasa. Ya rasa Ya Rosululloh, Ya Hu Hu Muhammad tunggaling rasa, tug jati tug jati Masya Alloh Rasa Rosululloh, nu osik sajeroning ati nu obah sajeroning rasa, nu tapa di gagang nyawa, kenyataaning dzatulloh ya Hu tunggal Gusti tunggal abdi, langgeng gusti langgeng abdi, ilang abdi tunggal gusti, dzat satunggal kersa, sajatining tunggal, dzat les sampurna ilalloh, wujud manusa nu hirup di ayana hirup, jumentul lahaula wala kuata hirup hak dat gumelar.
Rokaat 2
Dikikisan ku Gusti dikandangan ku Alloh, di luhur malaekat sewu, digigir bala seket, di handap sahabat opat, di tengah dzat rosululooh. Ya Hu Hu Hurip ingkang manjing jisim, sapatemoning dzatulloh, ya Hu Hu satunggal putih rupa raga kaula ditingali ku kaula nu ningali ku kaula, dzat gusti rupa raga kaula satunggal rupa jasmani latief nu sarupa jeng kaula.
Rohmanmu satetes nu saoles jeng kaula, Rohimu sarupa nu sarua jeng kaula, ya hadir 3x. Wujud gusti, wujud abdi, slamet gusti slamet abdi, jumeneng gusti jumeneng abdi, langgeng gusti langgeng abdi, kersa gusti kersa abdi, kawasa gusti kawasa abdi, hirupna Gusti nyatana Abdi, Bismi roh teguh, Alloh kang aweh teguh, Rohman kang amaning Roh-roh, Rohim kang imaning Jisim. Sapatemoning datulloh ya Hu ya Hirup.
Pujina Nur dat Nur Sifat Nur manusa, jleg Putih titinggalaning Nur.
Bismillahi Rohman Nirrohim, Nur Dat Nur Sifat, Nurrulloh Nur Jaya namaning, dimana diri sendiri, Raden Jaya Mas Ireng Namaning wewayangan terpil, ning dat tunggal semata hirupna ku cahayaning Alloh.
Langganan:
Postingan (Atom)


