Jumat, 26 April 2013

Ingat Kematian Raga, Ingat Keabadian Ruh

Ada sebuah perbincangan yang menarik antara seorang ustadz muda dengan jamaah pengajiannya. Sang Ustadz bertanya kepada jamaahnya “Ibu-Ibu mau masuk surga?” Serempak ibu-ibu menjawab “mauuuu….” Sang ustadz kembali bertanya “Ibu-ibu ingin mati hari ini tidak?”. Tak ada satupun yang menjawab. Rupanya tidak ada satupun yang kepengen mati. Dengan tersenyum ustadz tersebut berkata “Lha gimana mau masuk surga kalo gak mati-mati”.

Ustadz muda itu meneruskan pertanyaannya “Ibu-ibu mau saya doakan panjangumur?” Dengan semangat ibu-ibu menjawab “mauuu….” Pak Ustadz kembali bertanya “Berapa lama ibu-ibu mau hidup? Seratus tahun? Dua ratus atau bahkan seribu tahun? Orang yang berumur 80 tahun saja sudah kelihatan tergopoh-gopoh apalagi yang berumur ratusan tahun”.

Rupanya pertanyaan tadi tidak selesai sampai disitu. Sang ustadz masih terus bertanya “Ibu-ibu cinta dengan Allah tidak” Jawabannya bisa ditebak. Ibu-ibu serempak menjawab iya. Sang ustadz tersebut kemudian berkata “Biasanya kalo orang jatuh cinta, dia selalu rindu untuk berjumpa dengan kekasihnya, Apakah ibu-ibu sudah rindu ingin bertemu Allah?” Hening.Tidak ada yang menjawab.

Kebanyakan dari kita ngeri membicarakan kematian. Membayangkan-nya saja kita tidak berani. Penyebabnya adalah karena kita tidak siap menghadapi peristiwa setelah kematian. Padahal, siap tidak siap kita pasti akan menjalaninya. Siap tidak siap kematian pasti akan datang menjemput. Daripada selalu berdalih tidak siap lebih baik mulai dari sekarang kita mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian.

Yakinkan pada diri kita bahwa kematian adalah pintu menuju Allah. Kematian adalah jalan menuju tempat yang indah, surga. Dengan selalu mengingat mati kita akan selalu berusaha agar setiap tindakan yang kita lakukan merupakan langkah-langkah menuju surga yang penuh kenikmatan.

Hakekat kehidupan manusia adalah sebuah perjalanan kembali menuju Allah. Dalam perjalanan yang singkat ini ada yang kembali dengan selamat, namun ada yang terjerumus di neraka. Kita terlalu disibukkan oleh dunia hingga merasa bahwa dunia inilah kehidupan yang sebenarnya. Kita seakan lupa bahwa hidup ini hanya sekedar mampir untuk mencari bekal pulang. Kemilaunya keindahan dunia membuat kita terlena untuk menapaki jalan pulang.

Rasulullah SAW pernah berkata orang yang paling cerdas adalah orang yang selalu mengingat mati. Dengan kata lain orang yang paling cerdas adalah orang yang mempunyai visi jauh ke depan. Dengan selalu mengingat visi atau tujuan hidupnya ia akan selalu bergairah melangkah ke depan. Visi seorang muslim tidak hanya dibatasi oleh kehidupan di dunia ini saja namun lebih dari itu, visinya jauh melintasi batas kehidupan di dunia. Visi seorang muslim adalah kembali dan berjumpa dengan Allah. Baginya saat-saat kematian adalah saat-saat yang indah karena sebentar lagi akan berjumpa dengan sang kekasih yang selama ini dirindukan.

Terkadang kita takut mati karena kematian akan memisahkan kita dengan orang-orang yang kita cintai. Orang tua, saudara, suami/istri, anak. Ini menandakan kita lebih mencintai mereka ketimbang Allah. Jika kita benar-benar cinta kepada Allah maka kematian ibarat sebuah undangan mesra dari Allah.

Namun begitu kita tidak boleh meminta untuk mati. Mati sia-sia dan tanpa alasan yang jelas justru akan menjauhkan kita dari Allah. Mati bunuh diri adalah wujud keputusasaan atas kasih sayang Allah. Ingin segera mati karena kesulitan dunia menandakan kita ingin lari dari kenyataan hidup. Mati yang baik adalah mati dalam usaha menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Mati dalam usaha mewujudkan cita-cita terbesar yakni perdamaian dan kesejahteraan umat manusia.

Duhai Pemilik dunia...

Ajarkan kami untuk menundukkan dunia, bukan kami yang tunduk kepada dunia. Bila kilauan dunia menyilaukan pandangan kami, bila taburan permata dunia mendebarkan hati kami, ingatkan kami ya Allah. Ingatkan bahwa keridhoan-Mu dan kasih sayang-Mu lebih besar dari pada sekedar dunia yang pasti akan kami tinggalkan.

Jadikan hati ini menjadi hati yang tidak pernah mengharap selain hanya kepada-Mu. Tidak gentar dan takut selain kepada-Mu. Tidak merindukan penolong dan pembela selain pertolongan-Mu. Jadikan hati ini menjadi hati yang selalu sejuk mengingat-Mu. Hati yang cinta kepada-Mu. Hati yang rindu ingin segera berjumpa dengan-Mu.

Senin, 03 Desember 2012

Suluk Baka (Baqo) / Kekal

SULUK BAKA


Kinanthi

01. Kinanthi ingkang winuwus, wontên baka luwih adi, lir wali
angundang dhalang, sapari polahing ringgit, sayêkti saking
dhêdhalang, lan sapangucaping ringgit.

Diceritakan dalam tembang Kinanthi, yang dikemas dalam Suluk
Baka yang begitu indah, Seperti wali mengundang dalang, Segala
tingkah laku dalam wayang, nyata berasal dari dalang, Dan
segala ucapannya wayang.

02. Saking dhêdhalang puniku, solah pangucapirèki, Ki Dhalang
pan wujud Baka, upama dhalang lan ringgit, lir kawula lan Kang
Murba, sayêkti silihsinilih.

Adalah dari dalangnya itu, Segala tingkah dan ucapan kamu ini,
adalah dari ki dalang yang memiliki sifat kekal, Perumpamaan
dalang dengan wayang, adalah seperti kawula dengan Yang
Kuasa, yang nyata saling terkait keduanya.

03. Tan ana kêkalihipun, lamun tan silihsinilih, wayange lawan
Kang Murba, mangkana kawula Gusti, tan nyata ing kalihira,
lamun tan silihsinilih.

Tidak ada keduanya, jika tidak saling terkait, yakni antara
wayangnya dengan Yang Kuasa, Begitu juga dengan kawula dan
Gusti, Tidak nyata antara keduanya, jika tidak saling terkait.

04. Ya Allah kalawan rasul, kadi dhalang lawan ringgit, Allah
kang mangka dhêdhalang, rasul kang upama ringgit, ringgit
kalawan ki dhalang, tansah asilihsinilih.

Ya Allah dan rasul, bagai dalang dengan wayang, Allah sebagai
dalang, Rasul sebagai wayang, Wayang dengan ki dalang, selalu
saling terkait.

05.     Poma sira aja korup, mring pamisahing kêkalih, dhalang
dhalang wayangwayang, kawulakawula pasthi, gustigusti lah
panggihna, [nanging] kawruhana sami.

Kamu jangan menyembunyikan, terhadap perbedaan keduanya,
Dalang sebagai dalang ; wayang sebagai wayang, kawula tetap


sebagai kawula, Gusti gusti temukanlah, Namun, ketahuilah
kembali.

06. Ing pasthining kawulèku, yèn padudon tampaning sih, ing
padune iku iya, tan ana Mukhamad tunggil, iya Gusti ya kawula,
iya ulun iya dasih.

Apa yang menjadi ketetapan kawula itu, Jika berbantahan dalam
menerima sesuatu, ketika dalam perdebatan. Sesuatu itu ialah,
tidak ada Muhammad tunggal; karena dia itu gabungan dari Gusti
dan kawula, juga hamba dan abdi.

07. Pasthi nora kêna iku, ana dene tampaning sih, ya dening tan
kêna pisah, lawan kawruhana malih, pasthi sakèhing kawula,
minallahi mangallahi.

Hal itu tidak boleh terjadi, adanya penerimaan seperti ini; yakni
keduanya tidak boleh berpisah, Juga ketahuilah lagi, pasti bahwa
semua manusia itu, berasal dari Allah dan akan kembali kepada-
Nya.

08. Lan malihe lillulahu, têgêse kawula iki, anane saking
pangeran,       sarta       pangeranirèki,        lan      kawula       iku      iya,
wêwayanganing Hyang Widdhi.

Dan berubahnya manusia itu juga kehendak-Nya, Arti dari kawula
ini adalah, berasal dari Pangeran, yang juga merupakan Pangeran
kamu ini, Dan kawula itu juga, adalah gambaran dari Hyang
Widdhi.

09. Wayangan lawan suksmèku, iku panggihêna nuli, poma sira
dipunawas, lir ngangsu pikulan warih, lan ngambil gêni dêdamar,
kodhok angêmul lèngnèki.

(yang terdiri atas) badan dengan suksma itu, Hal itu temukanlah
kemudian, Karena kamu sebenarnya senantiasa diawasi, Seperti
mengambil air memakai pikulan air, dan mengambil api dengan
bekal api, Kodok menutupi liang tempat tinggalnya.

10. Lan warangka manjing dhuwung, parahu amot jaladri, kuda
ngêrap ing pandêngan, kalawan gêgêring mimis, tapaking kontul
anglayang, pambarêp adhining wragil.


Dan selubung keris masuk dalam keris, Perahu melingkupi lautan,
Kuda yang berlari cepat di kandangnya, Dengan gigiring peluru,
Jejak bangau terbang, Anak sulung adiknya si bungsu.

11. Lan tambining pucang iku, siti pinêndhêm ing bumi, lan
banyu kinum ing toya, lumpuh angidêri bumi, cebol anggayuh
ngakasa, kang wuta atuduh margi.

Dan tambining pohon pucang itu, Tanah yang terpendam di bumi,
Dan air yang direndam dalam air,    Lumpuh mengelilingi bumi,
Cebol meraih angkasa, Orang buta sebagai petunjuk jalan.

12. Bisu amungkasi padu, srêngenge pine lan malih, ingkang
pawaka binakar, walanjar durung alaki, randha manak bêranaan,
sajatine maksih sunthi.

Orang bisu mengakhiri perdebatan, Matahari dijemur, dan lagi, api
yang dibakar, Janda muda belum menikah, Juga janda yang
memiliki (melahirkan) anak, Sebenarnya masih perawan.

13. Parawan nusoni iku, lan taksih ing priyanèki, atine kang
wuluh wungwang, sawung kaluruk sajroning, turu lan wêkasan
benjang, jatining lanang lan èstri.

Perawan yang menyusui itu, Dan masih terikat oleh lelaki, hatinya
yang ada di dalam badan jasmani, Ayam jantan berkokok di
dalam, tidur dan akhir pagi, Sebenarnya laki-laki dan perempuan
itu.

14. Jatining kawula iku, lawan sajatining Gusti, jatining ringgit
lan dhalang, ana gusti andêdasih, kèngkèn duk lagya dinuta,
kawula dèn kawulani.

Adalah sebenarnya kawula, dengan sebenarnya Gusti, Keduanya
merupakan gambaran nyata dari wayang dan dalang, Ada gusti
yang mengabdi, menyuruh ketika lagi disuruh, hamba yang
dihambai.

15. Wontên punang madhêp ngidul, duk madhêp ngalèr lan
malih, wontên ingkang madhêp ngetan, duk madhêp mangilèn
tuwin, wontên kang madhêp mangandhap, duk lagya madhêp
manginggil.

Ada yang menghadap ke selatan, ketika sedang menghadap ke
utara,  dan lagi,    ada yang menghadap ke timur, ketika sedang

menghadap ke barat, Dan ada yang menghadap ke bawah, ketika
masih menghadap ke atas.

16.     Gutuk êlor kêna kidul, gutuk kidul lor kang kêni, gutuk
kulon kêna wetan, gutuk wetan kulon kêni, gutuk pribadi kênèng
lyan, gutuk lyan kêna pribadi.

Membidik ke utara kena selatan, Membidik selatan, utara yang
kena. Membidik barat kena timur, Membidik timur, barat yang
kena., Membidik diri, kena orang lain., Membidik orang lain, kena
diri sendiri.

17.     Wontên nalikane sêpuh, duk lagya anomirèki, wontên anom
duk ing tuwa, irêng nalikane putih, lawan katon kang kalingan,
wêkasan lagi awiwit.

Ada yang merasa tua, padahal kenyataannya masih muda, Muda
ketika sudah tua, Hitam tatkala putih, Seperti sesuatu yang nyata,
namun tampak samar-samar. Akhirnya baru mulai.

18. Angèdhèng anèng garumbul, adhedhe sajroning warih, silulup
anèng dharatan, lêlungan nalika prapti, singêdan anèng
pêpadhang, lanang nalikane èstri.

Bersembunyi di semak-semak, Berjemur di dalam air, Menyelam di
daratan, Bepergian ketika baru datang, Bersembunyi di tempat
terang, Lelaki ketika wanita.

19. Ěstri nalika priyèku, heh sagung kang ahli buddhi,
grahitanên iku padha, poma dèn kongsi kapanggih, pan iku
sasmitanira, janma kang punjul sasami.

Wanita ketika laki-laki, Hei para cerdik pandai, Pikirkanlah
renungan itu, dengan (kamu) sungguh-sungguh, hingga dapat
menemukan, Hal itulah yang menjadi isyarat, bahwa dirimu,
manusia yang melebihi manusia yang lain.

20.     Lamun sira nora wêruh, takona janma kang luwih, ingkang
wus ngarip ing Kuran, ngungsêda dèn kongsi olih, aja wêdi dening
guna, jêr pakewuh ujar iki.

Jika kamu tidak tahu, bertanyalah kepada orang yang pandai,
yang mengerti tentang Al Qur’an, Berusahalah dengan keras
hingga (kamu) mendapatkan ilmunya, Jangan takut akan gunanya
ilmu itu nanti, Sehingga merasa segan melaksanakan nasihat ini.


21. Pan akèh kang tiba luput, ragane dèndalih jati, marmane kèh
tibèng sasar, poma gurokna sayêkti, tunggaling gusti kawula, lan
rorororoning tunggil.

Banyak orang yang salah, Raganya disangka akan kekal, Oleh
karena itu, banyak yang jatuh dalam kesesatan, Dengan
berpedoman pada kebenaran, yakni tunggalnya Gusti kawula, dan
kedua-duanya tunggal.

22. Tunggil tunggale sawujud, wujuding kawula Gusti, lan
sampurnaning panêmbah, poma dènatèkitèki, dèn rampung
paningalira, aywa katungkul sirèki.

Satu tunggalnya satu wujud, Wujudnya kawula Gusti, dan
sempurnanya ibadah itu, jika kamu rajin melaksanakan perintah,
hingga selasai penglihatanmu, Janganlah kamu terjebak.

23. Dening wujud tunggal iku, mukhayat wujudirèki, apan iku
wêwujudan, tan ana towangirèki, saprênah prayoganira, tan
ketang gon ala bêcik.

Oleh wujud tunggal itu, Wujud ini hanya ada jika kamu hidup,
Sebab itu hanya wujud saja, tidak ada jarak kamu ini, Sebaiknya
kamu menuju satu arah saja, Tidak memperhitungkan tempat
buruk dan baik.

24. Mmêngkono pambêkanipun, yèn manusa kang wus ngarip,
tan na etang kiri kanan, tan narèntèng tan naricik, datan ing wuri
tan ngarsa, miwah ing ngandhap lan nginggil.

Demikian perasaannya, jika manusia disebut bijaksana itu, Dalam
pandangannya, tidak mengindahkan lagi yang ada di kiri kanan.
Tidak menyatukan dan tidak membagi, Tidak di belakang, tidak di
depan, Tidak di bawah dan di atas.

25. Adoh parêk ika iku, iki nora dene tangi, ingakên sadayanira,
iku tingaling kang luwih, kang satêngah agênturan, wênèh
kapapaging margi.

Jauh dekat sana sini, Ini tidak juga bangun, Lihatlah semuanya,
Itu penglihatan yang sempurna, Yang ketika keadaan menjadi
kacau, ada yang dijadikan sebagai petunjuk jalan.

26. Wênèh ingkang kapidulu, sawênèhwênèh ingkang ling,
sawênèh ana kang kocap, sawênèh ana tutwuri, iku kabèh
kawruhana, basa kapapag kapering.

Selain yang dilihat di antaranya, ada yang di dalam pikiran, Di
antaranya ada yang terucap, Selainnya ada yang di belakang,
Semua itu harus kamu ketahui, bahasa yang ditemui dibagi.

27.     Lan malih poma dèn wêruh, rampunge dhalang lan ringgit,
rampung ing Gusti kawula, dhalang pan nyata ing ringgit, ringgit
pan nyata ing dhalang, kawula nyata ing Gusti.

Dan lagi upama diketahui, selesainya dalang dan wayang, adalah
selesainya hubungan Gusti kawula, Tetapi dalang nyata di dalam
wayang, dan bukankah wayang nyata di dalam dalang,
Sebagaimana kawula nyata bagi Gusti.

28.     Gusti nyata kawulèku, êndi dhalang êndi ringgit, êndi Gusti
di kawula, wruha pisah kumpulnèki, lan sapa kang aran dhalang,
lan sapa kang aran ringgit.

Gusti nyata bagi para kawula, Mana dalang mana wayang, mana
Gusti, mana kawula, Ketahuilah pisah kumpulnya keduanya, Dan
siapa yang disebut dalang, dan siapa yang disebut wayang.

29. Roh ngakal kalawan ênur, iku dènarani ringgit, pan iku
wayang ilapat, kanapi aranirèki, dudu sajatining wayang, pan
wêwayangan sayêkti.

Roh, akal dengan nur,    Itu disebut wayang manusia, Tetapi itu
hanya wayang pengantara, yang disebut nafi (tidak ada), Bukan
sebenar-benarnya wayang, Akan tetapi, nafi mirip dengan wayang
itu; yang sebenarnya.

30.     Dening kang cupêt ing kawruh, iku dènarani ringgit, wujud
kak ingaran dhalang, kawruh wong kang durung ngarip, pasthine
iku nanging ta, wontên undhakipun malih.

Oleh orang yang memiliki sedikit ilmu, disebut wayang. Maka
wujud “Ada yang benar” yang disebut dalang itulah, pendapat
orang yang belum arif, Memang itu benar, akan tetapi masih ada
yang lebih tinggi lagi.

31. Sajatining dhalang iku, lawan sajatining ringgit, pan
kapanggih ing panunggal, ira kawula lan Gusti, ing kono dipun
waspada, marang wirasaning wangsit.

Sebenarnya dalang itu, dengan wayang yang sebenarnya, akan
bertemu menjadi satu,    denganmu sebagai kawula dan Gusti,
Perhatikan itu sungguh-sungguh, kepada arti keterangan dari
pertanda ini.

32. Dèn kacipta sasmitèku, yèn wus tan ngulati malih, katêmu
nèng sêlasêla, sajatine kang pinurih, kang micara pinicara, kang
dènrasani ngrasani.

Pikirkanlah makna yang sebenarnya dari simbol-simbol itu, Jika
sudah, tidak dilihat lagi, Ditemukan di sela-sela, Sebenarnya yang
diambil manfaatnya, yaitu yang membicarakan dibicarakan, yang
dibicarakan membicarakan.

33. Kang dinulu kang andulu, kang ngulati dènulati, iku
pancasing wicara, tan ana wirasan malih, yaiku rahsaning rahsa,
surahsarahsa sajati.

Yang dilihat yang melihat,    yang mencari dicari, Itu merupakan
tujuan  dari pembicaraan, Tidak ada pembicaraan lagi, yaitu
rahasianya rahasia, merahasiakan rahasia sejati.

34.     Rasanên rahsa kang mungguh, ing rahsanira pribadi, kang
sarta lawan pitêdah, ing guru kang sampun ngarip, dadi tan
katêlanjukan, rampunging dhalang lan ringgit.

Rasakanlah rahasia yang patut, Di dalam rahasia pribadimu, Yang
juga dengan petunjuk,    dari guru yang sudah paham, Menjadi
tidak akan ketemu, dengan akhir hubungan dalang dan wayang.

35. Aja sira mangumangu, idhêpmu aja sak sêrik, aja mêksih
amêmitra, lan aja sarupa mêksih, dadi bakal yèn mangkana,
têmah kapiran sirèki.

Janganlah kamu ragu-ragu, Perasaanmu jangan sampai iri, (hal
itu) jangan (terjadi jika) masih (ingin) berteman, dan jangan masih
serupa (dengan hal itu), Jika demikian akan berakibat, menjadi
terlantar kamu nanti.



36. Jêr kang satêngah wong iku, jajah desa milangkori, dèn
bêbanjar mranamrana, nora wêruh yèn tutwuri, pan  balolokên
kêwala, walang wrêksa kang lar wilis.

Sebenarnya, sebagian orang itu, melakukan pengembaraan ke
berbagai tempat, dan menyebar ke mana-mana, tidak tahu bahwa
mengikuti dari belakang, dan karena tidak dapat melihat (karena
silau) semata, adalah bagai belalang kayu yang bersayap hijau.

37. Tan buh pinangeran iku, kang konang gung angayêngi, aja
mangmang ing pangeran, kang nyata asih ing dasih, ing sarira
dènpungsênga, iku kang mangka gêgênti.

Tiada mengerti bahwa yang dianggap Tuhan itu, Yang terkenal
selalu mengelilingi, Jangan ragu-ragu kepada adanya Tuhan, yang
nyata kasih-Nya kepada hamba, Di badan dicari di mana-mana,
Itu sebagai pengganti.

38. Sayêkti paesan wujud, wujud tunggal tan kêkalih, apan nora
kêna pisah, ing kono goning ngawruhi, wit ning kang tan wruh
kadohan, sarirane dènsinggahi.

Nyata wujud jelmaan,    wujud satu tidak berbilang, Yang tidak
boleh pisah,Di situ tempatnya untuk mengetahui, Pohon, tetapi
yang tidak kelihatan dari kejauhan, Badannya disinggahi.

39. Den dalih pisaha iku, prandening yèn paningaling, wong kang
makripat, tan ketang jaba jero ngarep wuri, ngandhap nginggil
ana ora, brastha tan nganggo pinrinci.

Disangka pisahnya itu, Jika sekiranya merupakan penglihatan,
orang yang ma’rifat itu; maka dia tidak memperhatikan lagi, luar,
dalam, depan, belakang, bawah, atas ada tidak, Rusak tidak
memakai perincian.

40. Datan andulu dinulu, panêmbahe tan sarênti, alanggêng ing
ananira, gumêlêng ing jagad, lwirning dumadi pan kalimputan,
sêmbah sinêmbah pribadi.

Tidak melihat dilihat, Menyembahnya; tidak secara bersamaan,
Kekal di dalamnya, Disatukan di jagad semuanya, Menjadi tidak
tahu karena terliputi, Sembah disembah sendiri.


41. Ing makrup sampurnanipun, marmane datan kaèksi,
kalimput kandhih ing tunggal, tunggal tunggaling sawiji, yaiku
sêgara mulya, pan sakèhing para nabi.

Dalam kesempurnaan yang baik, Oleh karena itu, orang tidak
melihat apapun lagi, Semua diliputi dan ditutupi oleh Hyang
Tunggal, Tunggal tunggalnya Esa, yaitu samudra kemulyaan, dari
kebanyakan para nabi.

42. Wali mukmin ngulamèku, samya wuta bisu tuli, lumpuh
suwung tanpa solah, lir sêkar pangambunèki, jêr kalimput
raganira, kandhih dening Dzat Sajati.

Wali, mukmin, ulama iku; semuanya buta, bisu, tuli; lumpuh tiada
berilmu, tidak bertingkah;    Seperti baunya bunga ini, Kemudian
terliputi badanmu, tergeser oleh Dzat Sejati.

43. Pan kadya duk noranipun, iku sajatining dasih, apan nora
kadariyah, nora kajabariyahi, tan amuji tan anêmbah, pan kang
muji kang pinuji.

Tetapi umpama ketika tidaknya, itu seorang kawula, sebab bukan
takdir Ilahi, (Manusia) tidak mempunyai kuasa apa-apa, Tidak
memuji tidak menyembah, karena yang memuji adalah yang dipuji.

44. Mung sinilih bae iku, dening ta obahing dasih, dudu obahe
priyangga, sayêkti obahing Gusti, Gusti tan obah priyangga,
Lamun tan nilih ing dasih.

Hanya meminjam saja hal itu, Oleh setiap geraknya kawula,
bukan geraknya sendiri, Nyata geraknya Gusti, gusti tidak
bergerak sendiri, Jika tidak meminjam kawula.

45. nanging tunggal tan ro wujud, yèn roro lir makdum sarpin,
lan Malih kawikanana, kawula tan dadi Gusti, iku tingaling
sarengat, dening sampurnaning puji.

Tetapi tunggal tidak berwujud dua, Jika dua bagai makdum
sarpin, Dan lagi ketahuilah, kawula tidak bisa menjadi Gusti, Itu
dilihat dari sisi syariat, Oleh sempurnanya puji. 

46. Datan andulu dinulu, swuh brastha papan lan tulis, apan
wus rasa Pangeran, ywa kapêcan dening tampi, wadine nênggih
tan pisah, dening tan ana pribadi.


Tidak melihat apapun lagi, leburnya papan dan tulis, Jika sudah
mencapai rasa Pangeran, jangan diramalkan oleh penerimaan,
Karena rahasianya, yakni (rahasia) tidak pisah (tersebut), oleh
karena tidak ada pribadi.

47. Anane lan noranipun, tan sinêdya ananèki, dinadèkkên
dening suksma, mapan kinarya gagênti, lan kinarya sêksining
Dzat, Sipat Asma Apngal nênggih.

Ada dan tidaknya, tidak di maksud adanya ini, Dijadikan oleh
suksma, yang mapan dikaryakan, diganti; dan dikaryakan
saksinya Dzat, yaitu sifat Asma Af’al.

48. Yèn langgênge tan sakuthu, tur wimbuh purba sirèki,
Mahasuci ananira, tanpa lawan timbangnèki, jumênêng lan
dhèwèkira, wus nora samar sayêkti.

Jika kekalnya tidak sekutu, juga bertambah kuasa kamu ini, Maha
Suci adanya, tanpa lawan pertimbangan macam-macam, Berdiri
sendiri, tanpa ada kekhawatiran lagi.

Prof. Damardjati Supajar

Menurut Pak Damar Djati, peran kosmis dan universal dari seorang Sultan adalah sebagai Kalifatullah dimuka Bumi. Gelar Sultan tak ada duanya di dunia. Gelar itu beresensi pada istimewanya hati, spiritualitas. Keistimewaan itu se-analog dengan hati. Kalau hati baik, perbuatan dan keistimewaan juga akan menjadi baik. Demikian pula bila laku atau jalannya hati-hati, hasilnya juga akan baik dan selamat.
Menurut Pak Damar, keraton adalah lambang struktur manusia dengan segala konsep kesadaran sangkan paraning dumadi, sedulur papat lima pancer, kiblat papat lima pancer jalma limpat seprapat tamat.

Makna Keraton menjadi sangat penting dan melekat di hati rakyat, karena Sultan dan
Keraton masih memiliki atau memenuhi kualitas seperti yang tergambarkan dalam sanepo itu yang bersifat spiritual dan bermakna sangat mendalam.

Sanepo tersebut menyiratkan sebuah kearifan seorang pemimpin dan kesadaran illahi yang tinggi. Namun, lanjut Pak Damar, konsep keratuan Raja Jawa yang spiritual itu tidak dihayati secara sungguh-sungguh. “Kualitas kita ini masih sebatas raga. Maka, masih berjalan di tempat.
Kesadaran kita masih kesadaran api, yang dengan demikian adalah kesadaran iblis di mana manusia tak pernah bisa sujud.
Manusia itu terlena dengan aktifitas menjumlah dan menghitung, yang sebenarnya tidak akan pernah mencapai bilangan infinitum,” Barangsiapa hendak njongko, njangkah, ujung jangka harus lebih tajam dari sebilah jarum.

Padahal, terangnya, ketajaman jarum itu masih saja tumpul bila dilihat dengan mikroskop. Maka untuk bisa benar benar tajam, harus dengan hati, yakni ning
nong. Artinya heningkan hati atau rasa. Dengan begitu, baru bisa mendapatkan bilangan nol.

Tajam sejatinya tajam dan seimbang. “Barangsiapa bisa membagi bilangan nol, manusia baru akan bisa mbobot (mengandung) ruh, yakni janji Illahi. Karena itu, saya menekankan pentingnya sebuah revolusi spiritual, perang bratayudha. Perang besar antara raga dan jiwa.
Inilah yang seharusnya dilakukan oleh kita semua agar bisa lahir di dunia secara baru. Buah dari mbobot dan meteng-nya ibu.

Dua istilah yang dalam bahasa Jawa berarti hamil atau mengandung. “Mbobot dalam
bahasa Jawa juga bisa diartikan sebagai bobot yang berarti berat atau beban. Misalnya ketika perawan suci Maria yang tak pernah bersentuhan dengan lelaki tiba-tiba hamil, sang malaikat memberitahu, bahwa Maria bukannya sedang mbobot dalam pengertian terbebani. Tapi, justru terangkat oleh kuasa ruh. Ketika seorang ibu hamil, pengertiannya bukan karena dihamili. Tapi, sang ibu yang memang sedang mbobot ilmu amal suaminya. Harus dibuktikan Agar bangsa Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan di berbagai bidang, Pak Damar memiliki pemahaman yang menarik. Yaitu para cendekiawan harus semakin gigih meneliti sebagai pertimbangan untuk membuat kebijakan.“Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pahlawan, yang darahnya memang mulia, dan dengan mengingat tinta atau kalam alim-ulama itu lebih mulia. Namun bila mulianya darah syuhada pahlawan itu sudah terbukti, lebih mulianya kalam alim-ulama masih harus dibuktikan. Kiranya tidak berlebihan, bila dikatakan Indonesia berjalan di tempat. Agenda ‘pemindahan kekuasaan’ sebagaimana tersurat dalam teks proklamasi itu sedemikian dominan. Sehingga, agenda ‘dan lain-lain’ dalam teks proklamasi yang merujuk pada ranah budaya, spiritualitas, pendidikan, keadilan, kesejahteraan dan seterusnya, menjadi sekunder atau bahkan terabaikan. Padahal, semua itu terikat pada kualitas ‘kesaksamaan’dan‘dalam tempo sesingkat-singkatnya’. Semua itu kata kuncinya adalah mutu, yang dalam filsafat Jawa harus berlaku bagi mereka yang sudah tua dan menimang putu atau cucu. Menurut Pak Damar, putu dalam bahasa Jawa juga disebut wayah, berkonotasi waktu. Kesemuanya itu tampak jelas pada kasus aktual di Jogjakarta, yakni wacana keistimewaan Jogjakarta yang terfokus pada kekuasaan kegubernuran. Padahal, hakikat Keistimewaan Jogjakarta itu terutama terletak pada agenda ke-Khalifatullah-an (gelar Sultan Jogja), yang nilai raportnya istimewa (nilai A plus atau 10). Bila Indonesia berjalan di tempat, itu karena dunia juga berjalan di tempat. Dunia berjalan di tempat pada bahasa Tongkat Nabi Musa, Kalimullah, a.s. berupa ekonomi, politik dan teknologi. Padahal, setelah bahasa makluk yakni Tongkat Nabi Musa, segera disusul oleh bahasa Khalik, yakni bahasa Ruh, yang dipersonifikasikan oleh Kanjeng Nabi Isa, Ruhullah, a.s. Dunia jauh dari memahami bahasa Ruh tersebut. Apa lagi, bahasa terpuji, penghubung makluk dan Khalik, akhlak, Ahmad-Hamid-Mahmud- Muhammad, sikap dan cara hidup Hamemayu Hayuningrat. Maka demi keistimewaan Qolbu tubuh organik ke-Indonesia-an, kita harus menjemput bola. Bukan menunggu datangnya Isa, Ruhullah dari langit. Tapi, membobot ulang firman yang mem-badan, Jiwa Kang Kajawi. Dalam pandangan hidup Jawa, mbobot atau menimbang janji Kawula-Gusti itu jauh berbeda konotasinya dengan meteng, yang berkonotasi main main dengan weteng atau perut di kegelapan kesadaran peteng atau gelap, sehingga akibatnya meteng atau hamil. “Titik 0 (nol) sebagai lambang mbobot janji Kawulo-Gusti adalah inti Wuquf, yang bila paripurna segera akan diikuti oleh laku Waqaf. Justru laku waqaf itu dicontohkan oleh wanita yang mbobot, sedemikian rupa sehingga Surga itu terletak di telapak kaki ke-Ibu-an. Indonesia yang 'feminim' menemukan landasan pada istilah ibu jari, ibukota, nomor induk, dan menemukan landasan formalnya pada term Ummul Kitab, yang disiplinnya disebut Ilmu Filsafat, induk segala ilmu,” katanya. Ketika filsafat lahir di baby (bayi/anak) lonia Yunani, wacana mitologis terhapus oleh pencerahan akal budi. Sedemikian rupa, sehingga Atlas yang semula nama Dewa, berubah menjadi Peta. Nah, bagaimana supaya dunia tidak berjalan di tempat dan seolah-olah hanya mengolah fakta atau membaca fakta yang di tingkat SD untuk faktor, di SLTP untuk fungsi, di SLTA dan di Perguruan Tinggi untuk olah peran, yang sebenarnya semua itu hanya peran objek penderita? Tak lain, kata Pak Damar,“ modernisme harus berganti menjadi olah peran sebagai subjek pelaku. Koreksi makmum atas kesalahan Imam, yakni ungkapan subhanallah bagi kaum pria, menjadi tepukan paha bagi wanita. Itulah Filsafat Nareswari. Bila orang laku njangka, maka ujung jangkanya harus tajam dan seimbang, yakni titik 0 (nol). Dengan demikian, luas lingkarannya tak terhingga. Setiap poin, pun menjadi syah sebagai pusat semesta. Biarkanlah rakyat tidak ke mana-mana dan tetap ada di mana-mana. Vox Dei akan terungkap melalui Vox Populi, dan berkembanglah tradisi penemuan, dan Ratu Adil bukan omong kosong atau tinggal wacana. Tapi, ada karena ditegakkan bersama " ujarnya.

Jumat, 06 April 2012

MAKNA PRESIDEN RI


Ini Bukan Menceritakan Tentang Presiden Ri, Tapi Menceriterakan Jaman Yg Sudah Dan Sedang Kita Lalui :
  1. Sukarno memang jaman Sukar/sulit pada saat itu, maka hanya beliau MR (Muhammad Rahmat) .Ir. Soekarno yg mampu mengemban tugas itu sampai Indonesia Merdeka.
  2. Suharto jaman sudah berubah gampang mencari harta, tapi hanya harta yg selalu dikejar-kejar, warisan Ilmu tua/ Ilmu Kebangsaan Bung karno ditinggal.
  3. Habibie (Cinta) Setelah hartanya banyak maka cintanya hanya untuk dunia, maka kebanyakan manusia jaman sekarang apabila kehilangan harta atau wanita ia merasa separuh hidupnya hilang.
  4. Gus Dur (salah satu Orang Tua yg bersembunyi di tempat terang, dan penerus ajaran Bung Karno), Kebanyakan manusia sekarang telah dibutakan oleh isi dunia.
  5. Megawati setelah berharta, berpangkat, maka godaan selanjutnya adalah wanita (Harta, Tahta Wanita) hanya manusia pilihan dan terpilihlah yang bisa selamat dari godaan Dunia.
  6. SBY Berbudi, maka sudah saatnya anak bangsa Indonsia yang merasa terpilih untuk segera membenahi Budi Pekerti, Hati Nurani, sehingga bisa mengenal Tuhan Yang  Maha Agung.
Ratu Adil, maka bila bangsa Indonesia sudah berbudi mulia, akhlak mulia dia bisa berbuat adil kepada seluruh makhluk yg hidup bersama-sama di muka Bumi ini (Baik makhluk yg kasat mata, maupun tidak kasat mata). Karena mata Hatinya telah jernih dari nafsu dan kotoran2 Duni

Rabu, 15 Juni 2011

Wejangan Kanjeng Nabi Khidir


Kanjeng Nabi Khidir berhenti sejenak, lalu berkata “matahari berbeda dengan bulan, perbedaannya terdapat pada cahaya yang dipancarkannya. Sudahkah hidayah iman terasa dalam dirimu? Tauhid adalah pengetahuan penting untuk menyembah pada Allah, juga makrifat harus kita miliki untuk mengetahui kejelasan yang terlihat, ya ru’yat (melihat dengan mata telanjang) sebagai saksi adanya yang terlihat dengan nyata. Maka dari itu kita dalami sifat dari Allah, sifat Allah yang sesungguhnya, Yang Asli, asli dari  Allah. Sesungguhnya Allah itu, allah yang hidup. Segala afalnya (perbuatanya) adalah bersal dari Allah. Itulah yang demaksud dengan ru’yati. Kalau hidupmu senantiasa kamu gunakan ru’yat, maka itu namanya khairat (kebajikan hidup). Makrifat itu hanya ada di dunia. Jauhar awal khairat (mutiara awal kebajikan hidup), sudah berhasil kau dapatkan. Untuk itu secara tidak langsung sudah kamu sudah mendapatkan pengawasan kamil (penglihatan yang sempurna). Insan Kamil (manusia yang sempurna) berasal dari Dzatullah (Dzatnya Allah). Sesungguhnya ketentuan ghaib yang tersurat, adalah kehendak Dzat yang sebenarnya. Sifat Allah berasal dari Dzat Allah. Dinamakan Insan Kamil kalau mengetahui keberadaan Allah itu. Bilamana tidak tertulis namamu, di dalam nuked ghaib insan kamil, itu bukan berarti tidak tersurat. Ya, itulah yang dinamakan puji budi (usaha yang terpuji). Berusaha memperbaiki hidup, akan menjadikan kehidupan nyawamu semakin baik. Serta badannya, akan disebut badan Muhammad, yang mendapat kesempurnaan hidup”.

Syekh Malaya berkata lemah lembut, “mengapa sampai ada orang mati yang dimasukkan neraka? Mohon penjelasan yang sebenarnya”.

Kanjeng Nabi Khidir berkata dengan tersemyum manis, “Wahai Malaya! Maksudnya begini. Neraka jasmani juga berada di dalam dirimu sendiri, dan yang diperuntukkan bagi siapa saya yang belum mengenal dan meniru laku Nabiyullah. Hanya ruh yang tidak mati. Hidupnya ruh jasmani itu sama dengan sifat hewan, maka akan dimasukkan ke dalam neraka. Juga yang mengikuti bujuk rayu iblis, atau yang mengikuti nafsu yang merajalela seenaknya tanpa terkendali, tidak mengikuti petunjuk Gusti Allah SWT. Mengandalkan ilmu saja, tanpa memperdulikan sesama manusia keturunan Nabi Adam, itu disebut iman tadlot. Ketahuilah bahwa umat manusia itu termasuk badan jasmanimu. Pengetahuan tanpa guru itu, ibarat orang menyembah tanpa mengetahui yang disembah. Dapat menjadi kafir tanpa diketahui, karena yang disembah kayu dan batu, tidak mengerti apa hukumnya, itulah kafir yang bakal masuk neraka jahanam.

Adapun yang dimaksudkan Rud Idhafi adalah sesuatu yang kelak tetap kekal sampai akhir nanti kiamat dan tetap berbentuk ruh yang berasal dari ruh Allah. Yang dimaksud dengan cahaya adalah yang memancar terang serta tidak berwarna, yang senantiasa meserangi hati penuh kewaspadaan yang selalu mawas diri atau introspeksi mencari kekurangan diri sendiri serta mempersiapkan akhir kematian nanti. Merasa sebagai anak Adam yang harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan. Ruh Idhafi seudah ada sebelum tercipta. Syirik itu dapat terjadi, tergantung saat menerima sesuatu yang ada, itulah yang disebut Jauhar Ning. keenamnya jauhar awal. Jauhar awal adalah mutiara ibaratnya. Mutiara yang indah penghias raga agra nampak menarik. Mutiara akan tampak indah menawan. Bermula dari ibarat ketujuh, dikala mendengarkan sabda Allah, maka Ruh Idhafi akan menyesuaikan, yang terdapat di dalam Dzat Allah Yang Mutlak. Ruh serba psrah kepada Dzatullah, itullah yang dimaksudkan Ruh Idhafi. Jauhar awal itu pula, yang menimbulkan Shalat Daim. Shalat Daim tidak perlu mengunakan air wudhu, untuk membersihkan khadas tidak disyaratkan. Itulah shalat batin yang sebenarnya, diperbolehkan makan tidur syahwat maupun buang kotoran. Demikianlah tadi cara shalat Daim. Perbuatan itu termasuk hal terpuji, yang sekaligus merupakan perwujudan syukur kepada Allah. Jauhar tadi bersatu padu menghilangkan sesuatu yang menutupi atau mempersulit mengetahui keberadaan Allah Yang Terpilih. Adanya itu menujukkan adanya Allah, yang mustahil kalau tidak berwujud sebelumnya.

Kehidupan itu seperti layar dengan wayangnya, sedang wayang itu tidak tahu warna dirinya. Akibat junub sudah bersatu erat tetap bersih badan jisimmu. Adapun Muhammad badan Allah. Nama Muhammad tidak pernah pisah dengan nama Allah. Bukakah hidayah itu perlu diyakini? Sebagai pengganti Allah? Dapat pula disebut utusan Allah. Nabi Muhammad juga termasuk badan mukmin atau orang yang beriman. Ruh mukmin identik pula dengan Ruh Idhafi dalam keyakinanmu. Disebut iman maksum, kalau sudah mendapat ketetapan sebagai panutan jati. Bukankah demikian itu pengetahuanmu? Kalau tidak hidup begitu, berarti itu sama dengan hewan yang tidak tahu adanya sesuatu di masa yang telah lewat. Kelak, karena tidak mengetahui ke-Islaman, maka matinya tersesat, kufur serta kafir badannya. Namun bagi yang telah mendapatkan pelajaran ini, segala permasalahan dipahamilebih seksama baru dikerjakan, Allah itu tidak berjumlah tiga. Yang menjadi suri tauladan adalah Nabi Muhammad. Bukankah sebenarnya orang kufur itu, mengingkari empat masalah prinsip. Di antaranya bingung karena tiada pedoman manusia yang dapat diteladani. Kekafiran mendekatkan pada kufur kafir. Fakhir dekat dengan kafir. Sebabnya karena kafir itu, buta dan tuli tidak mengerti tentang surga dan neraka. Fakhir tidak akan mendekatkan pada Tuhan. Tidak mungkin terwujud pendekatan ini, tidak menyembah dan memuji, karena kekafirannya. Seperti itulah kalau fakhir terhadap Dzatullah. Dan sesungguhnya Gusti Allah, mematikan kefakhiran manusia, kepastianny ada di tanga Allah semata-mata. Adapun wujud Dzatullah itu, tidak ada stu makhluk pun yang mengetahui kecuali Allah sendiri. Ruh Idhafi menimbulkan iman. Ruh Idhafi berasal dari Allah Yang Maha Esa, itulah yang disebut iman tauhid. Meyakini adanya Allah juga adanya Muhammad sebagai Rasulullah. Tauhid hidayah yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan Yang Terpilih. Menyatu dengan Gusti Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Dan kamu harus menyatu bahwa Gusti Allah itu ada dalam dirimu. Ruh Idhafi ada di dalam dirimu. Makrifat itu sebutannya. Hidupnya disebut Syahadat, hidup tunggal didalam hidup. Sujud rukuk sebagai penghiasnya. Rukuk berarti dekat dengan Tuhan Pilihan. Penderitaan yang selalu menyertai menjelang ajal tidak akan terjadi padamu, jangan takut menghadapi sakaratil maut. Jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Allah. Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat.

Ruh Idhafi tidak akan mati. Hidup mati, mati hidup. Akuilah sedalam-dalamnya bahwa keberadaanmu itu, terjadi karena Allah itu hidup dan menghidupi dirimu, dan menghidupi segala yang hidup. Sastra Alif (huruf alif) harus dimintakan penjelasannya pada guru. Jabar jer-nya pun harus berani susah payah mendalaminya. Terlebih lagi poengetahuan tentang kafir dan syirik! Sesungguhnya semua itu, tidak dapat dijelaskan dengan tepat maksud sesungguhnya. Orang yang menjelaskan syariat itu berarti sudah mendapatkan anugrah sifat Gusti Allah. Sebagai sarana pengabdian hamba kepada Gusti Allah. Yang menjalankan shalat sesungguhnya raga. Raga yang shalat itu terdorong oleh adanya iman yang hidup pada diri orang yang menjalankannya. Seandainya nyawa tidak hidup, maka Lam Tamsyur (maka tidak akan menolong) semua perbuatan yang dijalankan. Secara yang tersurat, shalat itu adalah perbuatan dan kehendak orang yang menjalankan, namun sebenarnya Allah-lah yang berkehendak atas hambanya. Itulah hakikat dari Tuhan penciptanya. Ruh Idhafi berada di tangan orang mukmin. Semua ruh berada di tangan-Nya. Yaitu terdapat pada Ruh Idhafi. Ruh Idhafi adalah sifat jamal (sifat yang bagus atau indah) keindahan yang berasal Dzatullah. Ruh Idhafi nama sebuah tingkatan (maqom), yang tersimpan pada diri utusan Allah (Rasulullah). Syarat jisim lathif (jasad halus0 itu, harus tetap hidup dan tidak boleh mati.

Cahayanya berasal dari ruh itu, yang terus menerus meliputi jasad. Yang mengisayaratkan sifat jalal (sifat yang perkasa) dan sekaligus mengisyaratkat adanya sifat jamal (sifat keindahan). Jauhar awal mayit (mutiara awal kematian) itu, memberi isyarat hilangnya diri ini. Setelah semua menemui kematian di dunia, maka akan berganti hidup di akherat. Kurang lebih tiga hari perubahan hidup itu pasti terjadi. Asal mula manusia terlahir, dari adanya Ayah, Ibu serta Tuhan Yang Maha Pencipta. Satu kelahiran berasal dari tiga asal lahir. Ya, itulah isyarat dari tiga hari. Setelah dititipkan selama tujuh hari, maka dikembalikan kepada yang meninipkan (yang memberi amanat). Titipan itu harus seperti sedia kala. Bukankah tauhid itu sebagai srana untuk makrifat? Titipan yang ketiga puluh hari, itu juga termasuk juga titipan, yang ada hanya kemiripan  dengan yang tujuh hari. Kalau menangis mengeluarkan air mata karena menyesali sewaktu masih hidup. Seperti teringat semasa kehidupan itu berasal dari Nur. Yang mana cahayanya mewujudkan dirimu. Hal itulah yang menimbulkan kesedihan dan penyesalan yang berkepanjangan. Tak terkecuali siapun yang merasakan itu semua, sebagaimana kamu mati, saya merasa kehilangan.

Mati atau hilang bertepatan hari kematian yang keempat puluh hari. Bagaimanakah yang lebih tepat untuk melukiskan persamaan sesama makhluk hidup secara keseluruhannya? Allah dan Muhammad semuannya berjumlah satu. Seratuspun dapat dilukiskan seperti satu bentuk, seperti diibaratkan dengan adanya cahaya yang bersember dari cahaya Muhammad yang sesungguhnya. Sama hal pada saat kamu memohon sesuatu. Ruh jasad hilang di dalamnya, kehadirat Tuhan Yang Maha Pemberi. Tepat pada hari keseribu, tidak ada yang tertinggal. Kembalinya pada allah sudah dalam keaadaan yang sempurna. Sempurna seperti mula pertama dalam keadaan yang sempurna. Sempurna seperti mula pertama diciptakan”.

Syekh Malaya terang hatinya, mendengarkan pelajaran yang baru diterima dari gurunya Syekh Mahyuningrat Kanjeng Nabi Khidir. Syekh Malaya senang hatinya sehingga beliu belum mau keluar dari dalam tubuh Kanjeng Nabi Khidir. Syekh Malaya menghaturkan sembah, sambil berkata manis seperti gula madu. “Kalau begitu hamba tidak mau keluar dari raga dalam tuan. Lebih nyaman di sini saja yang bebas dari sengsara derita, tiada selera makan tidur, tidak merasa ngantuk dan lapar, tidak harus bersusah payah dan bebas dari rasa pegal dan nyeri. Yang terasa hanyalah rasa nikmat dan manfaat”. Kanjeng Nabi Khidir memperingatkan, “yang demikian tidak boleh kalau tanpa kematian”.

Kanjeng Nabi Khidir semakin iba kepada pemohon yang meruntuhkan hatinya. Kata Kanjeng nabi Khidir, “kalau begitu yang awas sajalah terhadap hambatan upaya. Jangan sampai kau kembali. Memohonlah yang benar dan waspada. Anggaplah kalau sudah kau kuasai, jangan hanya digunakan dengan dasar bila ingat saja, karena hal itu sebagai rahasia Allah. Tidak diperkenankan mengobrol kepada sesama manusia, kalau tanpa seizin-Nya! Sekiranya akan ada yang mempersolakan, memperbincangkan masalah ini! Jangan sampai terlanjur! Jangan sampai membanggakan diri! Jangan peduli terhadap gangguan, cobaan hidup! Tapi justru terimalah dengan sabar! Cobaan hidup yang menuju kematian, ditimbulkan akibat buah pikir. Bentuk yang sebenarnya ialah tersimpan rapat di dalam jagadmu! Hidup tanpa ada yang menghidupi kecuali Allah saja. Tiada antara lamanya tentang adanya itu. Bukankah sudah berada di tubuh? Sungguh, bersama lainnya selalu ada dengan kau! Tak mungkin terpisahkan! Kemudian tidak pernah memberitahunakan darimana asalnya dulu. Yang menyatu dalam gerak perputaran bawana. Bukankah berita sebenarnya sudah ada padamu? Cara mendengarnya adalah denga ruh sejati, tidak menggunakan telinga. Cara melatihnya, juga tanpa dengan mata. Adpun telingannya, matanya yang diberikan oleh allah. Ada padamu itu. Secara batinnya ada pada sukma itu sendiri. Memang demikianlah penerapannya. Ibarat seperti batang pohon yang dibakar, pasti ada asap apinya, menyatu dengan batang pohonnya. Ibarat air dengan alunnya. Seperti minyak dengan susu, tubuhnya dikuasai gerak dan kata hati. Demikian pun dengan Hyang Sukma, sekiranya kita mengetahui wajah hamba Tuhan dan sukma yang kita kehendaki ada, diberitahu akan tempatnya seperti wayang ragamu itu. Karena datanglah segala gerak wayang. Sedangkan panggungnya jagd. Bentuk wayang adalah sebagai bentuk badan atau raga. Bergerak bila digerakkan. Segala-galanya tanpa kelihatan jelas, perbuatan dengan ucapan. Yang berhak menentukan semuanya, tidak tampak wajahnya. Kehendak justru tanpa wujud dalam bentuknya. Karena sudah ada pada dirimu. Permisalan yang jelas ketika berhias.

Yang berkaca itu Hyang Sukma, adapun bayangan dalam kaca itu ialah dia yang bernama manusia sesungguhnya, terbentuk di dalam kaca. Lebih besar lagi pengetahuan tentang kematian ini dibandingkan dengan kesirnaan jagad raya, karena lebih lembutseperti lembunya air. Bukankah lebih lembut kematian manusia ini? Artinya lembut kesirnaan manusia? Artinya lebih dari, karena menentukan segalanya. Sekali lagi artinya lembut ialah sangat kecilnya. Dapat mengenai yang kasar dan yang kecil. Mencakup semua yang merangkak, melata tiada bedanya, benar-benar serba lebih. Lebih pula dalam menerima perintah dan tidak boleh mengandalkan pada ajaran dan pengetahuan. Karena itu bersungguh-sungguhlah menguasainya. Pahamilah liku-liku solah tingkah kehidupan manusia! Ajaran itu sebagai ibarat benih sedangkan yang diajari ibarat lahan.

Misal kacang dan kedelai. Yang disebar di atas batu. Kalau batunya tanpa tanah pada saat kehujanan dan kepanasan, pasti tidak tidak akan tumbuh. Tapi bila kau bijaksana, melihatmu musnahkanlah pada matamu! Jadikanlah penglihatanmu sukma dan rasa. Demikian pula wujudmu, suaramu. Serahkan kembali kepada yang Empunya suara! Justru kau hanya mengakui saja sebagai pemiliknya. Sebenarnya hanya mengatasnamai saja. Maka dari itu kau jangan memiliki kebiasaan yang menyimpang, kecuali hanya kepada Hyang Agung. Dengan demikian kau Hangraga Sukma. Yaitu kata hatimu sudah bulat menyatu dengan kawula Gusti. Bicarakanlah manurut pendapatmu! Bila pendapatmu benar-benar meyakinkan, bila masih merasakan sakit dan was-was, berarti kejangkitan bimbang yang sebenarnya. Bila sudah menyatu dalam satu wujud. Apa kata hatimu dan apa yang kau rasakan. Apa yang kau pikir terwujud ada. Yang kau cita-citakan tercapai. Berarti sudah benar untukmu. Sebagai upah atas kesanggupanmu sebagai khalifah di dunia. Bila sudah memahami dan menguasai amalan dan ilmu ini, hendaknya semakin cermat dan teliti atas berbagai masalah.

Masalah itu satu tempat dengan pengaruhnya. Sebagai ibaratnya sekejap pun tak boleh lupa. Lahiriah kau landasilah dengan pengetahuan empat hal. Semuanya tanggapilah secara sama. Sedangkan kelimanya adalah dapat tersimpan dengan baik, berguna dimana saja! Artinya mati di dalam hidup. Atau sama dengan hidup di dalam mati. Ialah hidup abadi. Yang mati itu nafsunya. Lahiriah badan yang menjalani mati. Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud. Raga sukma, sukma muksa. Jelasnya mengalami kematian! Syekh Malaya, terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan senang hatimu! Anugrah berupa wahyu akan datang kepadamu. Seperti bulan yang diterangi cahaya temaram. Bukankah turnya wahyu meninggalkan kotoran? Bersih bening, hilang kotorannya”.

Kemudian Kanjeng Nabi Khidir berkata dengan lembut dan tersenyum. “Tak ada yang dituju, semua sudah tercakup haknya. Tidak ada yang diharapkan dengan keprawiraan, kesaktian semuanya sudah berlalu. Toh semuanya itu alat peperangan”. Habislah sudah wejangan Kanjeng Nabi Khidir. Syekh Malaya merasa sungkan sekali di dalam hati. Mawas diri ke dalam dirinya sendiri. Kehendak hati rasanya sudah mendapat petunjuk yang cukup. Rasa batinya menjelajah jagad raya tanpa sayap. Keseluruh jagad raya, jasadnya sudah terkendali. Menguasai hakekat semua ilmu. Misalnya bunga yang masih lam kuncup, sekarang sudah mekar berkembang dan baunya semerbak mewangi. Karena sudah mendapat san Pancaretna, kemudian Sunan Kalijaga disuruh kelura dari raga Kanjeng Nabi Khidir kembali ke alamnya semula”.

Lalu Kanjeng Nabi Khidir berkata, “He, Malaya. Kau sudah diterima Hyang Sukma. Berhasil menyebarkan aroma Kasturi yang sebenarnya. Dan rasa yang memanaskan hatimu pun lenyap. Sudah menjelajahi seluruh permukaan bumi. Artinya godaan hati ialah rasa qonaah yang semakin dimantapkan. Ibarat memakai pakaian sutra yang indah. Selalu mawas diri. Semua tingkah laku yang halus. Diserapkan kedalam jiwa, dirawat seperti emas. Dihiasi dengan keselamatan, dan dipajang seperti permata, agar mengetahui akan kemauan berbagai tingkah laku manusia. Perhaluslah budi pekermu atau akhlak ini! Warna hati kita yang sedang mekar baik, sering dinamakan Kasturi Jati. Sebagai pertanda bahwa kita tidak mudah goyah, terhadap gerak-gerik, sikap hati yang ingin menggapai sesuatu tanpa ilmu, ingin mendalami tentang ruh itu justru keliru. Lagi pula secara penataan, kita itu ibaratnya busana yang dipakai sebagai kerudung. Sedangkan yang ikat kepala sebagai sarungmu. Kemudian terlibat ingatan ketika dulu. Ibarat mendalami mati ketika berada di dalam rongga ragaku.

Tampak oleh Sunan Kalijaga cahaya. Yang warnanya merah dan kuning itu, sebagai hambatan yang menghadang agar gagal usaha atauu ikhtiar atau cita-citanya. Dan yang putih di tengah itulah yang sebenarnya harus diikuti. Kelimanya harus tetap diwaspadai. Kuasailah seketika jangan sampai lupa! Bisa dipercaya sifatnya. Berkat kesediaanku berbuat sebagai penyekat. Untuk alat pembebas sifat berbangga diri. Yang selalu didambakan siang dan malam. Bukankah aku banyak sekali melekat atau mengetahui caranya pemuka agama yang ternyata salah dalam penafsiran. Dan penyampaian keterangannya? Anggapannya sudah benar. Tak tahunya malah mematikan pengertian yang benar. Akibatnya terperosok dalam penerapannya. Ada pemuka agama yang ibaratnya menjadi murung. Ia hanya sekedar mencari tempat bertengger saja. Yaitu pada batang kayu yang baik rimbun, lebat buahnya, kuat batangnya. Untuk kemuliaan hidup baru. Ada orang yang berkedudukan, ada yang ikut orang kaya. Akhirnya di masyarakatkan. Ibaratnya seperti sekedar memperoleh kemuliaan sepele. Jadinya tersesat-sesat. Ada pula yang justru memiliki jalan terpaksa.

Menumpuk kekayaan harta dan istri banyak. Ada pula yang memilih jalan menguasai putranya. Putra yang bakal menguasai hak asasi orang per orang. Semuanya ingin mendapatkan yang serba lebih di dalam memiliki jalan mereka. Kalau demikian halnya, menurut pendapatku, belumlah mereka disebut pemuka agama yang berserah diri sepenuhnya kepada Allah, tapi masih berkeinginan pribadi atau berambisi. Agar semua itu menjunjung harkat dan martabat. Tatanan yang tidak pasti, belum bisa disebut manusia utama. Yang demikian itu menurut anggapannya dan perasaannya mendapatkan kebahagiaan, kekayaan dan mengerti hak yang benar. Bila kemudian tertimpa kedudukan, terlanjur terbiasa. Memilih jalan sembarang tempat, tanpa mengahasilkan jerih payahnya dan tanpa hasil. Dalam arti mengalami kegagalan total. Setidak-tidaknya menimbulkan kecurigaan. Apa kebiasaan ketika hidup didunia. Ketika menghadapi datangnya maut, disitulah biasanya tidak kuat menerima ajal. Merasa berat meninggalkan kehidupan dunia yang tersangkal lagi. Pokoknya masih lekat sekali pada kehidupan duniawi. Begitulah beratnya amencari kemuliaan. Tidak boleh lagi merasa terlekat kepada anak-istri. Pada saat-saat menghadap ajatnya. Bila salah menjawab pertanyaannya bumi, lebih baik jangan jadi manusia! Kalau matinya tanpa pertanggungjawaban. Bila kau sudah merasa hatimu benar. Akan hidup abadi tanpa hisab. Akibatnya, tubuh bumi itu keterdiamannya tidak membantu. Kesepiannya tidak mencair. Tidak mempedulikan pembicaraan orang lain yang ditujukan kepadanya. Yaitu bagaimana hilang dan mati bersama raganya ialah diidamkannya. Sehingga mempertinggi semedinya, untuk mengejar keberhasilan. Tapi sayang tanpa petunjuk Allah, apalagi hanya semedi semata. Tidak disertai dukungan ilmu.


Senin, 09 Mei 2011

SULUK LINGLUNG

SULUK LINGLUNG
SUNAN KALIJAGA (SYEH MELAYA)
Karangan : Iman Anom
Adalah pujangga dari Surakarta yang merupakan keturunan dekat dari
Sunan Kalijaga. Tahun 19806 Caka / 1884 M.
R.Ay. SUPRATINI MURSIDI merupakan salah satu anak keturanan Kanjeng
Sunan Kalijaga yang merupakan pewaris Kitab Duryat, sedangkan isi dari
kitab tersebut memuat, pengobatan dengan menggunakan berbagai
daun ramuan tradisonal; azimat berbentuk rajah huruf Arab serta
memakai isim; berbagai macam doa yang berbahasa Jawa maupun Arap;
ramalan nasib manusia ditinjau dari segi perhitungan hari dan pasaran
dll. Bab yang terakhir perjalan hidup Kanjeng Sunan Kalijaga dalam
bentuk tembang macapat. Bagian bab inilah yang ditrasliterasikan ke
dlam tulisan Latin dan sekaligus diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia, denga diberi judul Suluk Linglung Sunan Kalijaga (Syeh
melaya).
Ditransliterasika ke dalam huruf latin dan diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh:
1. Drs. Muhammad Khafid Kasri;
2. Pudjasoemedi;
3. Abdul Rozaq Umar;
4. Khambali Solikulhadi.
Editor :
Praf Dr. Kasmiran W. Sunadji, MA
Penerbit Balai Pustaka Jakarta 1993


BRAMARA NGISEP SARI
PUPUH I
DHANDHANGGULA
1. Jumadilawwal puruning nulis, Isnen Kliwon tanggal ping pisan, tahun Je
mangsa destone, nenggih sengkalanipun, “Ngerasa sirna sarira Ji”,
turunan saking kitab, Duryat kang linusur, sampun kirang pangaksama,
ingkang maca kitab niki sampun kenging, kula den apuntena.
2. Pawartane pandhita linuwih, ingkang sampun saget sami pejah, pejah
sajroning uripe, sanget kepenginipun, pawartane kang sampun urip,
marma ngelampahi kesah, tan unigeng luput, anderpati tan katedah,
warta ingkang kagem para Nabi Wali, mila wangsul kewala.
3. Ling lang ling lung sinambi angabdi, saking datan amawi sabala,
kabeka dene nafsune, marmannya datan kerup, dennya amrih wekasing
urip, dadya napsu ingobat, kabanjur kalantur, eca dhahar lawan nendra,
saking tyas awon perang lan nepsu neki, sumendhe kersaning Hyang.
4. Ling lang ling lung anedheng Hyang Widhi, mugi-mugi binuka Hyang
Sukma, den legakna ing atine, sakayun yawunnipun, marga dadi sembah
lan puji, saking telasing manah, pramila nenuwun, nanging tan apunten
ing Hyang saking mboten saged nembah lawan muji, ngawur datan
uninga.
5. Ling lang ling lung pan kendel pribadi, tanpa rewang pan ucekucekan,
yetukaran pada dewe, tan adoh swaranipun, pan gumrejeg padu
tan enting, pan rebut kalah menang, tan ana rinebut, lir ngrebut prajeng
Ngastina, lali kadhang miwah bapa anak rabbi, jiwa raga tan ketang.
6. Ling lang ling lung tan weruh ing isin, saking kedah uningeng ing
warta, sinahu tapa lan luwe, yen ana kanca rawuh, melu mangan pan
datan eling yen mungkur kancanira, tan mangan saumur, saking tan ana
pinangan, ling lang ling lung angon paesan pribadi, tansah nagih
buruhan.
7. Ling lang ling lung tan olih, anenagih ngrejeg tanpo potang, kang
tinagih meneng bae, pan nyata nora nyambut, kang anagih awira-wiri, tan
ana beda nira, Syeh Malaya iku, wit puruhita atapa, mring Jeng Sunan
Benang kinen tengga kang cis, tan kena yen kesaha.
8. Ling lang ling lung pan sang mendha luwih, buda teja tequde sarira,
upamakken ing sanise, wonten sujalma luhung, putra Tuban Rahaden
Syahid, duk sepuh nama Sunan, Kalijaga sampun, langkung sinihan
Hyang Sukma, ingkang sampun dadi keramating Hyang Widhi, Mijil
saking asmara.

Senin, 25 April 2011

Hanacaraka


NASEHAT DARI AKSARA JAWA
Oleh : BRM Panji Anom Resiningrum
Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan
sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa.
A. Pembukaan Huruf Jawa
1. Huruf Ha
Berarti ‘hidup’, atau huruf berarti juga ada hidup, sebab memang hidup itu
ada, karena ada yang menghidupi atau yang memberi hidup, hidup itu
adalah sendirian dalam arti abadi atau langgeng tidak terkena kematian
dalam menghadapi segala keadaan. Hidup tersebut terdiri atas 4 unsur
yaitu:
a. Api
b. Angin
c. Bumi
d. Air
2. Huruf Na
Berari ‘nur’ atau cahaya, yakni cahaya dari Tuhan YME dan terletak pada
sifat manusia.
3. Huruf Ca
Berarti ‘cahaya’, artinya cahaya di sini memang sama dengan cahaya yang
telah disebutkan di atas. Yakni salah satu sifat Tuhan yang ada pada
manusia. Kita telah mengetahui pula akan sifat Tuhan dan sifat-sifat tersebut
ada pada yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia karena memang Tuhan
pun menghendaki agar manusia itu mempunyai sifat baik.
4. Huruf Ra
Berarti ‘roh’, yaitu roh Tuhan yang ada pada diri manusia.
5. Huruf Ka
Berarti ‘berkumpul’, yakni berkumpulnya Tuhan YMEyang juga terletak pada
sifat manusia.
6. Huruf Da
Berarti ‘zat’, ialah zatnya Tuhan YME yang terletak pada sifat manusia.
7. Huruf Ta
Berarti ‘tes’ atau tetes, yaitu tetes Tuhan YME yang berada pada manusia.
8. Huruf Sa
Berarti ‘satu’. Dalam hal ini huruf sa tersebut telah nyata menunjukkan
bahwa Tuhan YME yaitu satu, jadi tidak ada yang dapat menyamai Tuhan.
 9. Huruf Wa
Berarti ‘wujud’ atau bentuk, dalam arti ini menyatakan bahwa wujud atau
bentuk Tuhan itu ada dalam manusia yang setelah bertapa kurang lebih 9
bulan dalam gua garba ibu lalu dilahirkan dalam wujud diri.
10. Huruf La
Berarti ‘langgeng’ atau ‘abadi’, la yang mengandung arti langgeng ini juga
nyata menunjukkan bahwa hanya Tuhan YME sendirian yang langgeng di
dunia ini, berarti abadi pula untuk selama-lamanya.
11. Huruf Pa
Berarti ‘papan’ atau ‘tempat’, yaitu papan Tuhan YME-lah yang memenuhi
alam jagad raya ini, jagad gede juga jagad kecil (manusia).
12. Huruf Dha
Berarti dhawuh, yiatu perintah-perintah Tuhan YME inilah yang terletak
dalam diri dan besarnya Adam, manusia yang utama.
13. Huruf Ja
Berarti ‘jasad’ atau ‘badan’. Jasad Tuhan YME itu terletak pada sifat
manusia yang utama.
14. Huruf Ya
Berarti ‘dawuh’. Dawuh di sini mempunyai lain arti dengan dhawuh di atas,
karena dawuh berarti selalu menyaksikan kehendak manusia baik yang
berbuat jelek maupun yang bertindak baik yang selalu menggunakan katakatanya
“Ya”.
15. Huruf Nya
Berarti ‘pasrah’ atau ‘menyerahkan’. Jelasnya Tuhan YME dengan ikhlas
menyerahkan semua yang telah tersedia di dunia ini.
16. Huruf Ma
Berarti ‘marga’ atau ‘jalan’. Tuhan YME telah memberikan jalan kepada
manusia yang berbuat jelek dan baik.
17. Huruf Ga
Berarti ‘gaib’, gaib dari Tuhan YME inilah yang terletak pada sifat manusia.
18. Huruf Ba
Berarti ‘babar’, yaitu kabarnya manusia dari gaibnya Tuhan YME.
19. Huruf Tha
Berarti ‘thukul’ atau ‘tumbuh’. Tumbuh atau adanya gaib adalah dari
kehendak Tuhna YME. Dapat pula dikatakan gaib adalah jalan jauh tanpa
batas, dekat tetapi tidak dapat disentuh, seperti halnya cahaya terang tetapi
tidak dapat diraba atau pun disentuh, dan harus diakui bahwa besarnya gaib
itu adalah seperti debu atau terpandang. Demikianlah gaibnya Tuhan YME
itu (micro binubut).
20. Huruf Nga
Berarti ‘ngalam’, ‘yang bersinar terang’, atau terang/gaib Tuhan YME yang
mengadakan sinar terang.
Demikianlah huruf Jawa yang 20 itu dan ternyata dapat digunakan sebagai
lambang dan dapat diartikan sesuai dengan sifat Tuhan sendiri, karena
memang seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa Jawa yang
menggunakan huruf Jawa itupun merupakan sabda dari Tuhan YME.
Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan
sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa.